Tuesday, October 4, 2016

Kusdono, Mencoba Bertahan di Balik Bayang-bayang Sang Maestro

Fajarnews.com, CIREBON- Bagi sebagian orang, menjadi seniman adalah pilihan. Bagi sebagian lain, menjadi seniman adalah anugerah dari Sang Pencipta, karena tidak semua orang mampu menjadi seniman.

Lain lagi bagi Kusdono, anak keempat dari pelukis kaca Cirebon terkenal, Rastika, yang meninggal setahun silam. Bagi Kusdono, menjadi seorang seniman, pelukis kaca cirebonan adalah sebuah perjuangan.

Bagaimana tidak? Dengan modal keahliannya melukis kaca dari ayahnya itu, pelukis kaca asal Desa Gegesik Lor, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon itu masih tetap dihadapkan pada kesulitan hidup.

Keadaan ekonomi yang sulit di tengah semakin banyaknya pelukis-pelukis kaca di Cirebon membuat kehidupannya penuh perjuangan. Berjuang untuk bisa tetap survive dengan kehidupan seninya.

Dalam keadaan seperti itulah, Kusdono, yang merupakan satu-satunya penerus dari Sang Maestro Lukis Kaca Cirebon, Rastika, berencana akan melelangkan karya lukisan kacanya kepada siapa pun.

Walau berat, sebanyak 20 lukisan kaca dengan motif wayangan klasik, dengan berbagai ukuran (30 X 40 cm dan 122 X 80 cm) akan dilelangnya.

“Ya, saya akan melelangkan semua karya lukisan kaca yang ada sebanyak 20 lukisan kaca. Saya persilakan kepada para kolektor atau masyarakat umum yang ingin memilikinya, karena saat ini kondisi kami sangat membutuhkan biaya untuk hidup,” katanya, Kamis (26/3).

Saat Rastika masih hidup, Kusdono-lah yang biasanya dibawa turut serta ke pameran-pameran lukis kaca di berbagai daerah.

Saat ayahnya masih hidup, Kusdono menuturkan, pameran demi pameran dia ikuti bersama ayahnya.

Pameran seperti tak ada henti-hentinya, seringkali dia ikut ayahnya memamerkan hasil karyanya di Ibu Kota Jakarta.

“Sejak Ayah (Rastika, red.) meninggal setahun silam, pesanan lukisan kaca menurun. Pesanan sudah tidak seramai dulu lagi sewaktu Ayah masih hidup,” katanya, dengan mata membayang.

Sisa-sisa kejayaan Rastika masih menempel di wajah Kusdono, hidup bersama harapan akan masa lalu yang penuh kemilau: pesanan membanjir, pameran di mana-mana.

Tapi hari ini dan hari esok sudah dan akan berbeda.

Meskipun keadaan fisiknya berbeda dengan orang normal, Kusdono tak pernah sungkan untuk belajar lukis kaca hingga ikut dalam pameran.

Kegigihan Kusdono itulah yang membuatnya menjadi satu-satunya anak penerus Rastika.

“Meskipun fisik saya berbeda dengan orang normal, namun tidak pernah berhentinya menemani Ayah, sehingga cara-cara melukis di kaca pun hanya saya yang meneruskan. Karena dari kelima bersaudara hanya saya yang mampu meneruskan cita-cita ayah,” terangnya.

Namun Kusdono saat ini sudah pada titik, di mana dia harus menanggung kehidupan rumah tangganya.

Dengan kondisi fisik yang terbatas itulah, Kusdono pun hanya bisa mengandalkan keahliannya dalam melukis kaca yang diturunkan dari ayahnya.

“Karena saat ini sudah banyak bermunculan pelukis kaca lainnya dan karena kondisi fisik saya yang beda dengan orang normal sehingga saya tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

Dengan kondisi demikian, sebagai seniman yang mempunyai keahlian dari ayahnya, Kusdono dihadapkan pada cobaan untuk teguh menjaga seninya.

Posisinya memaksa dia, mau tidak mau, menghadapi ombak tantangan untuk melestarikan tradisi leluhur Cirebon yang diamanatkan melalui ayahnya, Sang Maestro itu. (ADH)

Sumber: http://lifestyle.fajarnews.com/read/2015/03/28/2144/kusdono.mencoba.bertahan.di.balik.bayang-bayang.sang.maestro

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment