Tuesday, October 4, 2016

BISNIS LUKISAN KACA Guratan laba dari lukisan media kaca

Oleh : Dina Mirayanti Hutauruk, Rani Nossar, Tri Sulistiowati
Selasa, 01 Juli 2014
15:42 WIB
Guratan laba dari lukisan media kaca

Memiliki kreativitas tinggi dan berinovasi bagi para pelaku usaha di industri kreatif sudah menjadi keharusan agar produknya bisa terus diterima pasar. Begitupula yang dilakukan para perajin seni lukis lewat media kaca atau yang biasa disebut glass painting. Mereka harus bisa menciptakan motif-motif baru dalam produknya dalam kurun waktu tertentu.

Salah satu seniman glass painting yang menggeluti bisnis ini adalah Ratna Miranti dari Bandung, Jawa Barat. Dia bilang, untuk dapat terus bertahan di tengah pelaku usaha lukisan kaca yang makin bertambah jumlahnya, dia rajin membuat kreasi motif baru dan juga mengembangkan teknik produksi.

Ratna banyak mendapatkan inspirasi dari motif-motif kain batik khas Indonesia. Sebab, motif-motif batik memiliki nilai seni yang tinggi serta banyak diminati konsumen. Selain itu, dia juga banyak mencari ide dari lingkungan dan alam sekitar untuk mendapatkan motif-motif yang bisa diaplikasikan di media kaca. "Teknik mengulas cat di kaca pun ada cara-cara tertentu agar hasilnya lebih rapi," kata dia.

Wanita berambut pendek ini sudah cukup lama menekuni bisnis ini, yaitu sejak tahun 2009. Berawal dari kesalahan membeli jenis cat, Ratna akhirnya menemukan ketertarikan di usaha ini. "Harusnya saya beli cat untuk kain tapi waktu itu saya beli cat untuk kaca," kata dia.

Media kaca yang pertama dia gunakan adalah botol. Kebetulan saat itu mendekati perayaan Natal, sehingga banyak teman-temannya yang tertarik dan meminta dibuatkan, tetapi dengan media stoples. Darisitu bisnisnya terus berkembang. Lewat brand Meerakatja, Ratna dapat memproduksi sekitar 200 hingga 300 botol berlukis setiap  bulan.

Karena telah cukup lama berkecimpung di bisnis ini, produknya sudah cukup terkenal. Tidak jarang dia mendapatkan pesanan dalam jumlah besar hingga lebih dari 1.000 botol lukis. Konsumennya cukup beragamm, mulai dari perorangan hingga korporasi. Dia juga sempat menjalin kerjasama dengan produsen minuman ringan Coca Cola. "Banyak juga yang memesan sebagai suvenir pernikahan," kata Ratna.

Perajin glass painting lainnya adalah Laksmiwati Etty di Sidoarjo, Jawa Timur. Pemilik Alia Kraft Glass Painting ini awalnya ia memang hobi untuk membuat suvenir buatan tangan dengan mencoba-coba dari kaca. Ia suka melukis gambar bunga-bunga di media kaca sebagai pajangan untuk mempercantik ruangan rumah.

Laksmiwati juga seorang penulis buku-buku keterampilan seperti Kreasi Bunga dari Biji, Glass Painting, Modern Patchwork, Kriya Kertas Semen, Art Painting, dan Gift Box. Ia sudah sejak lama suka membuat kreasi produk buatan tangan. Namun sejak tahun 2009, ia mulai fokus untuk membuat kerajinan glass painting.

Banyak penjiplakan

Laksmiwati dan  empat orang karyawannya membuat lukisan kaca di atas berbagai media seperti gelas, vas bunga, guci, stoples kaca, lampu, tempat permen kaca, piring kaligrafi, dan benda dari kaca lain. Namun yang paling laris hingga saat ini adalah di gelas lukis. "Gelasnya bukan untuk minum, tapi untuk pajangan saja. Kecuali stoples kaca untuk tempat kue, " kata Laksmiwati.

Untuk gelas pajangan, Laksmi bisa menghasilkan 50 gelas per hari. Sedangkan untuk media di vas bunga atau guci besar dia hanya bisa memproduksi satu produk per hari.

Harganya bervariasi tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Untuk suvenir pernikahan, gelas-gelas pajangan dihargai Rp 15.000−25.000 per buah. Sedangkan media lain seperti lampu, guci, vas bunga, kisaran harganya Rp 100.000-Rp 1 juta per buah. "Omzet yang saya dapat sekitar Rp 20 juta per bulan," kata Laksmiwati.

Sementara, Ratna dari bisnis ini bisa mendapatkan omzet hingga Rp 30 juta tiap bulan. Dia membandrol harga produknya mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 3 juta per botol. Wanita lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan, harga jual cukup tinggi karena proses pembuatannya  semua masih menggunakan tangan alias manual.

Keuntungan bersih yang didapat Ratna cukup besar, sekitar 50% dari omzet. Avrin Yusmindar, perajin lukisan media kaca dari Bali, bilang, konsumennya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, dia juga kerap mendapatkan pesanan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. 

Avrin memproduksi gelas lukis dari yang berukuran kecil hingga stoples ukuran besar. Ada dua jenis cat yang dia gunakan yaitu cat biasa dengan daya tahan yang tidak  terlalu lama dan cat khusus yang permanen untuk kaca. Sehingga, penggunaan cat dia sesuaikan dengan permintaan. Jika ada pesanan suvenir pernikahan, dia menggunakan cat biasa sehingga harga jualnya lebih murah.

Produk yang dilukis dengan cat biasa dibanderol mulai harga Rp 10.000−Rp 100.000 per unit. Sedangkan produk yang menggunakan cat permanen dijual berkisar Rp 50.000−Rp 400.000 per unit. "Harga tergantung ukuran dan motifnya," kata dia.

Setiap bulan, Avrin bisa memproduksi 500 sampai 2.000 gelas lukis. Disamping memproduksi gelas painting, Avrin juga menjual beraneka ragam produk aromaterapi. Dari kedua usahanya tersebut ia bisa meraup omzet rata-rata Rp 20 jutaan setiap bulan.

Kendati bisnis gelas lukis sudah berkembang lama, namun Avrin melihat bahwa peluang bisnis ini masih tetap ada. Ia bilang, gelas-gelas lukis masih disukai banyak orang terutama oleh mereka yang mencintai seni.

Untuk tetap dapat berkembang, Avrin mengaku banyak mengembangkan motif-motif baru agar orang tetap tertarik. Selain itu, ia juga memberikan pelayanan yang baik bagi konsumennya.

Ratna bilang, bisnis ini memiliki kendala terbesar yakni penjiplakan karya motif. Tidak sedikit perajin produk sejenis yang sengaja menjiplak kreasi orang lain untuk produknya. Karena sekarang sudah banyak pelatihan untuk melukis di atas kaca. "Meski begitu, bisnis ini cukup menjanjikan ke depannya bila terus ditekuni," ujar Ratna.  

Banyak cara bagi para perajin glass painting untuk memasarkan produknya. Seperti Ratna Miranti, pemilik Meerakatja Glass Art, dia rajin mengikuti pameran dan bazaar.

Dari sanalah, Ratna mendapatkan banyak pelanggan.Selain itu Ratna, juga menggunakan media digital seperti website, Facebook, Twitter dan lainnya. Dia mengaku, pelanggan  yang memesan dalam jumlah besar umumnya dia dapatkan dari media digital. "Karena banyak orang yang browsing internet untuk cari barang untuk suvenir," jelasnya.

Laksmiwati Etty, pemilik Alia Kraft Glass Painting pun menggunakan berbagai media sosial untuk berpromosi. Selain itu dia juga  aktif ikut pameran yang biasa diadakan Kementerian Koperasi dan UMKM atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Agar produknya terlihat unik, Ratna gemar mengumpulkan botol bekas minuman sebagai media untuk melukis. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk meminta botol dari teman-temannya. Kebanyakan botol yang dia minta adalah botol wine dan botol minuman alkohol lainnya. "Saya biasanya juga sering mencari botol kaca untuk minuman yang unik," katanya. 

Tetapi, untuk pesanan dengan jumlah banyak, selama ini Ratna mempunyai pemasok langganan. Sedangkan Laksmiwati mengambil bahan bakunya dari Kedawung, Jawa Barat. Sedangkan untuk suvenir kelas premium, Laksmiwati sendiri yang memburu gelasnya dari berbagai daerah.

"Kalau sedang pergi ke salah satu kota, biasanya saya suka mencari gelas, lampu, atau vas untuk bisa dijadikan karya selanutnya. Tapi kalau gelas yang kecil-kecil biasanya pesan saja, " kata Laksmiwati.

Pemesanannya pun tidak bisa diprediksi, kadang dalam sebulan Laksmiwati bisa memesan 5.000 gelas, atau bisa juga hanya 2.000 gelas. Dia juga kerap mengumpulkan botol-botol minuman yang terbuat dari kaca, botol parfum bekas, serta lampu-lampu kaca bekas. Dengan begitu para perjain glass painting ini juga ikut mendaur ulang sampah.

Sumber: http://m.kontan.co.id/news/guratan-laba-dari-lukisan-media-kaca

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment