Sunday, October 2, 2016

GELIAT SENI LUKISAN KACA DI CIREBON

Selain batik, harta karun budaya Cirebon lainnya adalah lukisan kaca. Tak ada yang tahu pasti, kapan persisnya seni lukis ini hadir di Cirebon. Konon, seni melukis ini sudah dikenal sejak abad 17 Masehi, atau awal munculnya keraton Cirebon. Pada zaman itu, lukisan kaca digunakan sebagai media dakwah agama Islam, dan lebih banyak mengangkat pola batik seperti mega mendung, wayang dan kaligrafi. Seiring berjalannya waktu, kini seni lukis kaca Cirebon sudah berkembang seperti halnya seni lukis kontemporer lain. Lukisan kaca yang dilukis dengan teknik melukis terbalik ini, sangat kaya akan gradasi warna dan aspek dekoratif, serta ragam hias ornamen dan motif.  Perkembangan seni lukis dengan media kaca ini sempat mengalami pasang surut. Bahkan, lukisan kaca hasil karya para pelukis kaca di Cirebon ini pernah dijual dari pintu ke pintu, tidak seperti sekarang di mana galeri seni mulai menjamur di kota Cirebon. Lukisan kaca ini pun kini telah menjadi cinderamata khas Cirebon. Kantor-kantor pemerintahan di kota Cirebon tak jarang minta dibuatkan lukisan kaca untuk dipajang atau diberikan kepada tamu sebagai souvenir. Lukisan kaca Cirebon mulai menemukan kembali tempatnya pada tahun 80-an. Di masa itu, salah satu maestro lukis kaca, Toto Sunu, membuat lukisan kaca berukuran besar yang sangat indah. Hasilnya, apresiasi dari masyarakat pun bertebaran dan diberikan kepada seniman lukisan kaca. Salah satu bentuk apresiasi yang diterima datang dari istri Duta Besar Brazil masa itu. Menurut salah seorang pelukis kaca ternama Cirebon, Bambang Sonjaya, perkembangan seni lukis kaca Cirebon kini bergerak semakin positif. Apresiasi tak hanya datang dari warga lokal, melainkan juga kalangan ekspatriat yang sudah sejak lama kepincut pada seni ini. Bambang, yang juga merupakan salah seorang putra budayawan dan maestro kesenian Cirebon, H. Abdul Adjib ini, bercerita justru awalnya tidak tertarik pada seni lukis kaca ini. Bahkan ia pernah meledek almarhum ayahnya yang nyaris setiap hari melukis di atas kaca. Ia baru tersadar untuk menekuni seni lukis kaca usai diwisuda dari Fakultas Administrasi Negara, Universitas Padjajaran, Bandung. Saat itu, almarhum ayahnya mengatakan bahwa dirinya bisa menyelesaikan kuliah berkat lukisan kaca. Saat mendengar itu, dadanya seakan sesak. Akhirnya, ia membulatkan tekad untuk belajar dan mendalami seni melukis kaca.  Tahun 1994, Bambang mulai belajar dari sang ayah. Ia mengakui, butuh keahlian khusus untuk menjadi seorang pelukis kaca. Belajarnya pun cukup lama, karena harus membuat lukisan atau gambar secara terbalik. Kesabaran dan keyakinan tangan saat membuat garis sangat penting. Dan di tahun 1996, ia mulai memasarkan lukisan kaca secara door to door. Beruntung saat itu ia bertemu dan berkenalan dengan orang pemerintahan daerah yang kemudian mengajaknya mengikuti beragam pameran. Sampai kemudian, ada seorang wartawan asing dari Australia yang datang ke rumahnya untuk mewawancarai Ayahnya sebagai seorang musisi tarling. Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir Pantai Utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling). Kepada wartawan itu, almarhum ayahnya mengatakan bahwa putranya tersebut adalah seorang pelukis kaca. Akhirnya Bambang dan sang wartawan pun terlibat obrolan. Dan ternyata, pada bulan Desember 1997, liputan mengenai lukisan kacanya muncul di majalah Garuda Indonesia. Bahkan salah satu lukisannya menjadi cover. Sejak saat itu, banyak warga negara asing yang datang ke rumahnya dan mejadi pelanggan. Bahkan ada juga warga Amerika Serikat bernama Michael Hills yang kemudian memborong lukisannya untuk dijual lagi ke negaranya. Dan pada pesanan keduanya, sekitar tahun 1998, Bambang mendapat pesanan senilai 7000 USD. Dikatakan pembeli itu, lukisan Bambang ada juga yang dibeli oleh Arnold Schwarzenegger dan Madonna. Pesanan pun terus berlanjut sampai tahun 2013.  Bambang sama sekali tak menyangka, jalan hidup sebagai pelukis kaca yang ia pilih itu membuat namanya dikenal hingga ke mancanegara. Pembeli lukisannya pun terus berdatangan, baik yang datang secara langsung ke rumahnya di Cirebon maupun melalui dunia maya. Masa keemasan itu Bambang cicipi sampai tahun 2007 atau 2008. Setelah itu semakin banyak pelukis kaca lain yang bermunculan. Harga lukisan kacanya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya lukisan serta tingkat kerumitan atau motifnya. Bisa ratusan ribu rupiah, bahkan pernah ada lukisan kacanya yang ditawar ratusan juta rupiah. Bambang sendiri sejak tahun 2014 hanya membuat dan menerima pesanan lukisan kaca yang sesuai syariah Islam. Saat ini ia sedang mengumpulkan modal untuk membuat galeri syariah. Selain Bambang, banyak pelukis muda yang kini juga berkarya dan melestarikan kesenian warisan nenek moyang itu. Satu di antaranya adalah Aries Sutardi yang dapat ditemui di Cheribon Gallery di Jl. Raya Kedawung, Cirebon. Menurut Aries, menciptakan karya seni lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Itu sebabnya, ia sudah lebih dari 20 tahun tetap menekuni seni lukis kaca yang memiliki teknik cukup sulit itu. Teknik melukis kaca sangat berbeda dengan teknik melukis dengan memanfaatkan media seperti kanvas atau yang lain. Selain itu, cara melukisnya juga berbeda. Harus berpikir terbalik dan langsung jadi, karena kalau salah tidak bisa ditiban.  Berbeda dengan tema lukisan kaca yang sudah ada, Aries membuat beragam lukisan dengan motif yang lain, seperti karikatur, foto, natural atau realis. Meski begitu, ia juga masih membuat lukisan seperti wayang, wadasan, dan lain-lain. Tahun 1993 menjadi awal dirinya memulai menambahkan warna lain pada lukisan kacanya. Saat itu, ia membuat beragam lukisan dengan media kaca. Tahun 1998, ia membawa lukisan kacanya itu ke Jakarta. Ketika melikat lukisan kacanya, banyak orang yang tidak percaya kalau yang dibuat Aries itu benar-benar lukisan kaca. Bahkan ia sampai membuka frame-nya dan memperlihatkan lukisan setengah jadi kepada orang-orang itu. Pada saat yang bersamaan memang sudah ada pelukis yang juga membuat hal serupa di Cirebon. Tapi jumlahnya masih sedikit, mungkin hanya sekitar empat orang. Tapi sekarang sudah banyak yang membuat hal serupa dan bagi Aries itu justru bagus karena bisa membuat lukisan kaca ini semakin berkembang. Hanya saja, berbeda dengan pelukis lain, mungkin cuma Aries yang tidak punya stok lukisan. Karena berapa pun lukisan yang ia buat, pasti habis terjual. Aries memang sengaja tidak menyediakan stok, karena mengaku dirinya butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Menurut Aries, butuh kesabaran untuk menciptakan sebuah lukisan kaca. Apalagi kalau desainnya rumit dan dirinya sedang tidak mood. Sementara kalau mood-nya sedang datang, dalam sehari ia bisa membuat satu lukisan. Bahkan Aries mengaku pernah mampu memenuhi pesanan pelanggan hingga ratusan buah lukisan kaca untuk dibawa ke Australia. Ia justru malah senang jika harus memenuhi target dalam jumlah yang banyak, karena merasa tertantang. Tapi pernah juga, ia dilanda kebosanan karena harus melukis motif yang itu-itu saja. Aries menambahkan lukisan kaca memiliki banyak kelebihan dibandingkan lukisan biasa. Selain perawatannya lebih mudah ketimbang jenis lukisan lain, warna lukisan kaca dijamin mampu bertahan lebih lama. Bahkan bisa bertahan seumur hidup seperti lukisan-lukisan kaca yang ada di keraton Cirebon. Asalkan, jangan sampai jatuh saja.

Sumber: http://paradizhop.blogspot.co.id/2015/05/geliat-seni-lukisan-kaca-di-cirebon.html?m=1

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment