Tuesday, October 4, 2016

Karya 6 : Bela Pati Puteri Mahkota

Langit tak selamanya terang, ketika diawali dengan terbitnya Sang fajar menyingsing, maka akan diakhiri dengan langit senja yang akan segera berganti malam. Setelah gugurnya Maharaja Prabu Linggabuana beserta pasukannya Bela mati, kemudian tepat dengan langit senja yang menjadi saksi ketika Sang Puteri Citraresmi melakukan bela pati, Sang Puteri segera menusukkan kujangnya pada bagian jantung, untuk segera menyusul ayahandanya. Suasanapun menjadi kelam, sunyi namun mencekam, jerit tangis para dayang-dayang yang masih hidup begitu sedih, karena ditinggal pergi Sang Puteri dan semua kerabatnya, tak lama kemudian segera para dayang-dayang ikut menyusul dengan melakukan bela pati.
     Tak habis pikir, niatnya datang ke Majapahit untuk acara pernikahan Sang Puteri Citraresmi dengan Prabu Hayam Wuruk, namun yang ada adalah bencana, bagaikan lautan darah yang terjadi di Palagan Bubat, Majapahit. Ternyata Sang Raja Majapahit tidak menepati janjinya, ia kalah dengan kemauan dan perintah dari Mahapatihnya. Semua di balik peristiwa terjadinya peperangan di Palagan Bubat adalah Mahapatih Gajah Mada, karena atas dasar untuk menepati sumpah Amukti Palapanya, untuk menyatukan seluruh kerajaan di Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, yang kebetulan salah satunya adalah kerajaan Sunda Galuh.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-6-bela-pati-puteri-mahkota.html?m=1

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment