Tuesday, September 20, 2016

Perkembangan Kesenian mulai dari Seni Primitif, Seni Klasik, Seni Tradisional, Seni Modern, sampai Seni Kontemporer beserta contoh karya seni yang dihasilkan

Segala bentuk hasil karya manusia didunia ini tentunya selalu mengalami bentuk perubahan dan perkembangan dari waktu kewaktu, karena tidak akan mungkin karya manusia terjadi begitu saja dan sampai disitu saja. demikian pula halnya dengan karya seni yang dibuat oleh manusia. Tentunya karya seni akan berawal dari bentuk karya yang paling sederhana dengan bahan yang sederhana pula. dan karya seni tersebut akan mengalami perkembangan menjadi lebih baik sesuai dengan jamannya.
berikut akan dijelaskan mengenai perkembangan hasil karya seni manusia dari jama primitif sampai jaman modern.
                 
Seni Primitif
Seni primitif berkembang pada zaman prasejarah, yang mana tingkat kehidupan manusia pada masanya sangat sederhana sekali dan sekaligus merupakan ciri utama, sehingga manusianya disebut orang primitif. Hal ini berpengaruh dalam kebudayaan yang mereka hasilkan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-6-OyImOpsnnkCSj7o3Nm2mw1ct3kogrFZPP2nYz-1kXPut7T6OBMWVm0lhFTdxVxSvaxgcrfafQ55D24jirmDgNSNbTgpXd5aTOMJqXdyNVvjQzFBBEiIwSaFkd3FhdAVzHgu1J9VDO1/s320/20.jpg
Contoh Lukisan seni primitif

Mereka menghuni goa-goa, hidup berpindah-pindah (nomaden) dan pekerjan berburu binatang. Di bidang kesenian, karya seni yang dihasilkan juga sangat sederhana, namun memiliki nilai tinggi sebagai ungkapan ekspresi mereka. Peninggalan karya seni yang dihasilkan berupa lukisan binatang buruan, lukisan cap-cap tangan yang terdapat pada dinding goa, seperti pada dinding goa Leang-leang di Sulawesi Selatan, goa-goa di Irian Jaya, dan pada dinding goa Almira Spanyol.

Selain karya lukisan, terdapat juga hiasan-hiasan pada alat-alat perburuan mereka yang berupa goresan-goresan sederhana. Karya seni yang dihasilkan hanya merupakan ekspresi perasaan mereka terhadap dunia misterius atau alam gaib yang merupakan simbolis dari perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan takut, senang dan perdamaian. Ciri-ciri lain dari seni premitif yaitu goresannya spontannitas, tanpa perspektif, dan warna-warnanya terbatas pada warna merah, coklat, hitam, dan putih.

Seni Klasik
Kesenian klasik merupakan puncak perkembangan kesenian tertentu, yang mana tidak dapat berkembang lagi (mandeg). Karya seni yang dianggap klasik memiliki kriteria sebagai berikut : (1) Kesenian yang telah mencapai puncak (tidak dapat berkembang lagi), (2) merupakan standarisasi dari zaman sebelum dan sesudahnya, dan (3) telah berusia lebih dari setengah abad. Selain dari ketentuan itu, suatu kesenian belum bisa dikategorikan seni klasik. Karya-karya seni klasik dapat dijumpai pada bangunan-bangunan kuno Nusantara pada zaman Hindu-Budha dan bangunan-bangunan kuno di Yunani dan Romawi.

Seni Tradisional
Tradisi artinya turun temurun atau kebiasaan. Seni tradisional berarti suatu kesnian yang dihasilkan secara turun-temurun atau kebiasaan berdasarkan norma-norma, patron-patron atau pakem tertentu yang sudah biasa berlaku. Seni tradisi bersifat statis, tidak ada unsur kreatif sebagai ciptaan baru. Sebagai contoh dapat kita lihat pada lukisan gaya Kamasan Klungkung, kriya wayang kulit, kriya batik, kriya tenun, dan sebagainya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOVcx1b0auZevnmeC4mbqOcM_lFVyORX1fabGzC34kzdQk9XXCw9khNGXnQ7N6N62vLviwtE3FV8-CW5_rJzbud3VwIJPprRuPeH8SUcC15vBmNQfjTLfMmkS4XhbQfPT6XondDCktBALF/s200/4145_1008208103117_1762397601_8708_7036275_n.jpg
Seni Modern

Seni modern merupakan kesenian yang menghasilkan karya-karya baru. Seniman yang kreatif akan menghasilkan karya seni yang modern, karena di dalamnya ada unsur pembaharuan, baik dari segi penggunaan media, teknik berkarya maupun unsur gagasan/ide. Seni modern tidak terikat oleh ruang dan waktu, baik itu karya yang dihasilkan di masa lampau maupun pada masa kini aslkan ada unsur kreativitasnya. Karya-karya seni rupa modern dapat dilihat pada lukisan karya Van Gogh, Pablo Picasso, Affandi, Basuki Abdullah, Gunarsa, patung karya G. Sidharta, Edi Sunarso, Nuarta, dan sebagainya.

Seni Kontemporer
Kontemporer berarti sekarang atau masa kini. Seni kontemporer memiliki masa popularitas tertentu sehingga seni ini dapat dikatakan bersifat temporer. Seni ini dapat dinikmati pada masa populernya dan apabila sudah lewat maka masyarakat tidak lagi menyukainya. Karya-karya seni kontemporer pada mulanya muncul di Eropa dan Amerika, seperti lukisan karya Andy Warhol dan patung karya Hendri Moore. Belakangan ini, seni kontemporer telah berkembang di berbagai negara yang memiliki gagasan yang unik, seperti berupa patung dari es, lukisan pada tubuh manusia (body painting), seni instalasi, grafity, dan sebagainya.

Contoh lukisan seni Kontemporer
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.
Ciri-ciri
Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman.
Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, hingga aksi politik.
Contoh
Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya enviromental art.
Seniman
Gregorus Sidharta, Christo, dan Saptoadi Nugroho.

Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

Seni rupa di Indonesia sudah ada sejak zaman prasejarah. Adapun rincian perkembangan seni rupa tersebut, yakni sebagai berikut.
1.      Zaman Prasejarah
Pola dasar seni prasejarah Indonesia mungkin bertanggal jauh sebelum masa kedatangan bangsa Austronesia, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu. Meskipun demikian, melihat kesinambungan gaya dan bentuk yang ada hingga saat ini, mungkin ada beberapa benda yang dibuat dalam kurun waktu begitu tua.
Perkembangan seni rupa di Idonesia dimulai sejak penemuan situs-situs arkeologi pada dinding gua, yaitu berupa lukisan yang terbuat dari arang mineral berwarna sejenis oker (semen), serta ramuan berwarna dari jenis-jenis tumbuhan di sepanjang pantai Kepulauan Indonesia Timur terutamadi Pantai Barat Laut Papua, Kepulauan Kei, Pulau Seram  di Maluku, Sulawesi Selatan dan Kalimantan.
Para ahli memperirakan lukisan-lukisan tersebut berkaitan erat dengan upacara-upacara yang bersifat religius magis, yaitu berupa upacara kesuburan dan kematian (siklus hidup subur dan mati). Adapun objek-objek yang dilukis di antaranya :
a.       Perahu, sebgai simbol sarana kesuburan dan kematian.
b.      Ikan, sebagai makanan utama dan simbol kesuburan.
c.       Berbagai jenis reptil, seperti kadal, sisak, tokek, biawak, buaya, dan burung enggang. Di beberapa wilayah Indonesia, kadal digambarkan sebagai “Dewa Bumi”, sedangkan burung Enggang, sebagai “Dewa Atas/Dewa Langit”.
Seni rupa di Indonesia mulai meninjukkan bentuk yang lebih maju pada zaman perunggu yang berlangsung sejak 500 tahun SM. Penemuan suhu tinggi pada teknik peleburan logam dan teknk cor (a’ sire perdue) memperlihatkan tingginya peradaban manusia pada saat itu. Karya seni mewakili zaman perunggu masih bertalian erat dengan upacara-upacara religius magis, seperti neraka, moko, candrasa, patung-patung nenek moyang, serta pembuatan peralatan rumah tangga, peralatan berburu, dan menangkap ikan.

2.      Zaman Klasik
Zaman klasik dibedakan menjadi beberapa periode dan masing-masing zaman memiliki ciri dan keunikan tersendiri, antara lain sebagai berikut.

a.      Pengaruh Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam bidang seni dimulai sejak abad ke-4 M, bersamaan dengan penyebran kedua agama tersebut di Indonesia. Banyak di antara konsep Hindu-Budha mengenai para dewa yang dinyatakan dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk manusia maupun bukan manusia. Bentuk pengaruh Hindu-Budha terhadap karya seni rupa Indonesia antara lain :

1)      Seni Patung atau Seni Pahat
Pada patung Hindu-Budha, ragam hias yang paling umum digunakan adalah padma teratai. Padma melambangkan tempat duduk dewa tertinggi, terbentuknya alam semesta, kelahiran Budha, kebenaran utama, tempat kekuatan hayati dan suci bagi kaum Yogin), serta rasa kasih. Bentuk hias yang lain adalh swastika (melambangkan daya dan keselarasan agad raya), kalamakara (terdiri dari kala yang melambangkan waktu, dan makara malambangkan makhluk seperti buaya), serta kinnara yang berwujud setengah manusia dan burung (anggota dari kelompok dewa penghuni langit).
2)      Arsitektur
Pengaruh zaman Hindu-Budha dalam bidang seni rupa sangat kental dalam bidang arsitektur, khususnya arsitektur pada bangunan candi. Candi di Indonesia dibedakan menjadi candi Hindu dan candi Budha.
a)      Candi Hindu
Arsitektur candi Hindu Indonesia memiliki gaya yang sama dengan India Selatan. Candi Syiwa Lara Jonggrang di Jawa Tengah, misalnya. Candi tersebut melukiskan penafsiran setempat yang terperinci mengenai tempat pemujaan agama Hindu yang menunjukkan ciri Syiwaisme.

b)     Candi Budha
Bangunan candi Borobudur, tidak ada hubungan gaya dengan India. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat konsentris. Enam tingkat paling bawah dirancang sebuah bidang persegi, sementara empat tingkat di atasnya merupakan stupa utama berbentuk lingkaran.

3)      Seni Kriya
Para ahli sejrah menduga masyaralkat kita mengadakan kontak dengan melalui perdagangan. Masuknya pengaruh Hinduu-Budha dari India memberikan nilai tambah bagi perkembangan seni kriya di Indonesia, terutama dalam teknik menenun kain katun dan sutra. Berpadu dengan keterampilan setempat, seni kriya bahan tenunan pun berkembang menjadi bentuk seni batik.

b.      Pengaruh Cina
Hubungan dagang Indonesia dan Cina dimulai antara tahun 250 sampai 400 M, yaitu beberapa ratus tahun sebelum terjadinya berbagai perubahan seni dan budaya secara nyata. Hubungan dagang tersebut berlangsung di kota-kota pelabuhan tempat para saudagar Cina tinggal dan menikah dengan masyarakat setempat.
Walaupun tidak sekuat pengaruh Hindu-Budha, ebudayaan Cina tetap memainkan peranan penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Pada hakikatnya, pengaruh Cina pada unsur kebendaan (dalam hal bentuk), tanpa tujuan keagamaan dan sosial budaya.
Pengaruh budaya Cina yang tampak pada seni rupa Indonesia antara lain :
a)      Arsitektur
Rincian dan kerumitan ukiran kayu yang serupa dengan bagian dalam istana dan masjid juga ditemukan di gerbang mmakam, relief di beberapa candi di Jawa Timur menampakkan pengaruh Cina dalam bentuk liku-liku yang meliuk dan ragam hias awan. Selain itu pengaruh Cina tampak pada pura dan beberapa istana, sejumlah tempat peribadatan, seperti Klenteng, bahkan masjid yang menggunakan keramik dan piring-piring Cina.

b)     Peralatan Rumah Tangga
Sejak dulu masayrakat Indonesia yang masih tradisional menggunakan tikar sebagai alas duduk. Sejak abd ke-16 mulai ada perubahan. Para bangsawan istana mulai menggunakan kursi sofa. Perabotan taman, hiasan keramik, dan pot bunga sebagian menggunakan produk Cina.

c.       Pengaruh Islam
Pengaruh Islam terhadap seni Indonesia merupakan hasil perdagangan yang dimulai sejak abd ke-11. Para pedagang dari Gujarat, India, membangun permukiman di sepanjang Pantai Timur Sumatra dan Aceh. Selanjutnya pusat-pusat kebudayaan Islam dibangun secara bertahap di Demak dan Jepara.
Pengaruh kebudayaan Islam terhadap seni rupa antara lain sebagai berikut.

a)      Pahatan Kubur dan Masjid
Beberapa makam islam paling tua menggunakan nisan bergaya Islam. Batu nisan gaya Gujarat ditemukan di Samudera Pasai (Aceh Utara) dan Gresik. Arsitektur masjid Indonesia pun berbeda dengan yang ditemukan di negara Islam lainnya. Masjid lama dibangun dengan mengikuti prinsip dasar bangunan kayu, dan disertai dengan pembangunan pendapa di bagian depan. Selain itu juga memiliki atap tumpang yang memberikan ventilasi, dan disangga oleh deretan tiang kayu. Masjid-masjid tersebut terdapat di Cirebon, Banten, Demak, dan Kudus. Bagian dalamnya dihiasi pola bunga, satwa, dan bangun berulang. Letak piring-piring China, Vietnam, dan Thailand digunakanuntuk menyamakan lantai berwarna yang ditemukan di masjid Timur Tengah dan Moghul, India.

b)     Kaligrafi
Kaligrafi Islam, khususnya kaligrafi Arab, merupakan unsur penting dalam seni hias Islam. Begitu pula dengan seni kaligrafi Indonesia, sebagian besar mendapat pengaruh dari seni kaligrafi Arab. Benda-benda upacara yang ada di istana-istana, seperti belati, tombak, pedang, dan panji-panji sering dihiasi kaligrafi. Selain itu, hiasan kaligrafi juga nampak pada lukisan kaca dan ukiran kayu pada dinding istana. Tokoh wayang juga ada yang dihiasi oleh ragam hias kaligrafi untuk menyamarkan bentuk manusianya.

d.      Pengaruh Barat
Kedatangan Portugis (abad 16) dan Belanda (abad 17) ke Indonesia, merupakan awal masuknya pengaruh Barat dalam seni rupa Indonesia. Sampai saat ini pengaruhnya masih tampak pad aberbagai bidang, yakni arsitektur, busana, seni sastera, seni wastra, dan peralatan rumah tangga.
a)      Arsitektur
Pengaruh Belanda dalam bidang arsitektur dapat ditemukan pada bangunan-bangunan yang hingga kini masih banyak terdapat di beberapa wilayah nusantara. Gaya arsitektur Belanda ada pula yang dipadukan dengan gaya arsitektur tradisional, seperti ubin, jendela kaca timah, dan teralis besi tempa.

b)     Busana
Salah satu contoh pengaruh gaya busana Barat yang masih lestari hingga kini yaitu penggunaan jas. Pada awal kedatangan bangsa Belanda, para penguasa mengambil alih kebiasaan orang Eropa dalam memakai jas yang biasanya dibuat dari beludru dan dihiasi dengan pita emas. Jas dengan gaya tersebut masih sering digunakan untuk upacara istana atau upacara resmi, misalnya busana kenegaraan abdi dalem yang mengiringi kereta kuda Soltan Yogygakarta dan Sunan Surakarta.

c)      Peralatan Rumah Tangga
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Indonesia biasa duduk di lantai dan tikar. Namun ada beberapa naskah tua yang menerangkan tentang peralatan rumah tangga yang biasa digunakan orang-orang kelas atas pada waktu itu. Misalnya, Piagam Kembang Sri abad 12, menyebutkan hak beberapa orang terhormat untuk menggunakan dipan berukir yang ditutup kain indah ddan hiasan lainnya.
Peralatan rumah tangga Eropa pertama kali muncul di kalangan istana. Pada awalnya Soltan tidak menerima orang Eropa duduk di tempat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, Soltan mulai menggunakan kursi, terutama di tempat umum ketika mereka muncul bersama dengan pegawai Belanda. Walaupun peralatan tersebut didatangkan dari Belanda oleh masyarakat kalangan atas, tetapi polanya banyak ditiru oleh pengrajin lokal.

3.      Zaman Modern
Seni rupa modern Indonesia diwakili ketika seorang pemuda Jawa, bernama Raden Saleh mendapat kesempatan belajar seni lukis di Belanda pada awal abad ke-19 (pada masa penjajahan). Walaupun ia memiliki bakat yang luar biasa, tetapi ia tidak memberikan pengaruh langsung pada perkembangan seni di Idonesia karena tidak adanya pelukis lain yang sama tingkatannya awal pada abad ke-20.
Setelah Raden Saleh, hanya beberapa seniman yang mencapai ketenaran yang berarti, samapi kemunculan generasi baru yang lebih dikenal dengan pelukis Mooi Indie. Sebagian besar pelukis aliran ini dibimbing oleh seniman Belanda dan mengikuti gaya naturalis romantis. Kelompok ini merupakan cikal bakal seni rupa modern Indonesia. Tiga tokoh di antaranya, yaitu pelukis Abdullah Suryosubroto, Pirngadie, dan Wakidi, menjadi guru beberapa tokoh seni modern di Indonesia.

Sumber Pustaka:
-          http://senirupabogor.blogspot.com/2010/09/seni-rupa-tradisional-modern.html
-          http://www.scribd.com/doc/19468889/Seni-Lukis-Zaman-Primitif

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment