Tuesday, October 4, 2016

Karya 1 : Ratna Ayu Sunda Galuh

Kehidupan yang sebenarnya dimulai sejak lahirnya si jabang bayi ke dunia, begitupun awal mula kisah Puteri Citraresmi dari anak seorang Raja Sunda Galuh yang terkenal adil dan bijaksana, sehingga terkenal di seluruh Nusantara. Keelokan wajah yang berparas cantik jelita, serta berbudi luhur seakan menjadi kembang keratonnya Surawisesa, menjadi dambaan kekasih orang tuanya, kebaikan hatinya menjadi penghias negeri Sunda Galuh yang sejahtera.
Puteri Ayu Sunda Galuh menjadi lambang kesetiaan, kebaikan, dan membawa suasana sejuk bagaikan di tamansari yang seindah nirwana, tak ada rasa takut, cemas, khawatir, semuanya serasa begitu indah dan tenang. Puteri Citraresmi dikenal juga sebagai Dyah Pitaloka, ia dilahirkan di lingkungan keraton Surawisesa di Kawali, Ciamis, pada tahun 1261 Saka (1339 Masehi). Ia adalah anak Maharaja Prabu Linggabuana dengan isterinya bernama Dewi Lara Linsing, ia mendapat sebutan sebagai sosok Puteri Sunda, karena dari silsilahnya, darah yang mengalir pada Puteri Citraresmi berasal dari dua sumber, Galuh dari ayahnya, dan Sunda dari ibunya.
Sejak terlahir ke dunia, sudah tampak tanda-tanda kecantikan pada diri Puteri Citraresmi, bahkan sejak berangkat usia remaja umur 18 tahun, kecantikannya sudah menjadi bahan pembicaraan para Raja se-Nusantara. Properti busana yang dikenakan Sang Puteri juga menandakan bahwa ia merupakan anak seorang Raja,  mahkota yang dipakai sebagai penghias untuk menutupi bagian atas kepala, dengan rambut yang terurai panjang bergelombang, mengenakan kemben warna  hitam, selendang, dan samping warna cokelat sebagai pakaian kesehariannya ketika berada di lingkungan keraton Surawisesa, Sunda Galuh.
Sang Puteri juga selalu diajarkan tentang ilmu pengetahuan dan agama, bagaimana cara bersikap yang baik, berperilaku yang baik, ucapan yang baik, yang diajarkan oleh keluarganya, sehingga dalam keadaan apapun ia tetap akan menjaga nama baik, dan menjaga kehormatan keluarga, dan negerinya. Kesetiaannya begitu besar untuk menjadi kebanggaan hati orang tuanya, ia begitu patuh pada perintah orang tuanya, dan siap rela berkorban demi orang tuanya, sebagai bentuk bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-1-ratna-ayu-sunda-galuh.html?m=1

Karya 2 : Bunga Keraton Surawisesa

Konsep karya ke dua menggambarkan sosok Puteri Citraresmi dalam keadaan merenung dengan posisi tangan kanan memegang pipih, dan tangan kiri memegang kain samping. Tatapan wajah yang berseri, berisikan keadaan yang membuat penasaran maksud dari mimpinya itu. Sang Puteri dengan keadaan sedikit ada kekhawatiran akan arti mimpinya, yang seakan terus membayanginya. Ia bermimpi semua rombongan kerajaan Sunda Galuh, bersama keluarga, ayah, ibu, dan ia sendiri, akan pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, bahkan sangat asing baginya. Semua mengenakan pakaian serba putih, kemudian datang angin seperti badai, dan semua keluarganya tersapu oleh badai tersebut.
Walaupun sedikit ada rasa kekhawatiran namun wajahnya masih tetap berseri dan terlihat menawan. Ia hanya merasakannya pada saat itu saja, setelah itu bisa melupakan mimpinya itu, walau hanya dalam beberapa waktu. Karya ke dua adalah bagian dari lanjutan kisah karya ke satu, ia tetap masih berada dalam suasana di lingkungan tamansari keraton Surawisesa, negeri Sunda Galuh yang makmur dan sejahtera rakyatnya. Tamansari yang ditata seindah mungkin, dengan tanaman bunga, batu, serta ranting dari pohon-pohon yang tumbuh subur, hijau daunnya menjadi bagian penyejuk suasana di sekitarnya. Namun sedikit ada rasa kekhawatiran pada diri Sang Puteri, ia pun tetap bisa tegar, dan jika terjadi sesuatu nanti pada dirinya, ia tetap dalam keadaan yang bisa mengimbangi, karena arti kehidupan akan segera dimulai, dan manusia hanya bisa berusaha dan meminta petunjuk ke Yang Maha Agung.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-2-bunga-keraton-surawisesa.html?m=1

Karya 3 : Menggambar Sang Prameswari

Kabar berita yang disampaikan para pedagang kepada Mahapatih Gajah Mada, tentang keberadaan sosok Puteri dari anak Raja Sunda Galuh yang konon mempunyai paras wajah yang cantik jelita, dan berbudi luhur. Kabarpun disampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, yang masih dalam kesendiriannya belum menemukan calon pendamping yang cocok dengan hatinya. Karena pilihan Sang Prabu yaitu seorang Puteri yang memiliki cantik luar dan dalam, sehingga berkat kabar yang disampaikannya itu, kemudian sang Prabu jadi penasaran, dan untuk membuktikannya yaitu perlu melihat wajahnya dulu. Akhirnya diutus seorang juru gambar dari Majapahit, untuk berangkat ke Sunda Galuh, dan menggambar sosok Puteri cantik tersebut.
Pada karya ke tiga ini memvisualisasikan ketika Puteri Citraresmi sedang digambar oleh Sungging Prabangkara, utusan dari Majapahit untuk menggambar sosok Puteri dari Sunda Galuh. Sungging Prabangkara adalah salah satu dari Majapahit yang mempunyai bakat dan keahlian menggambar yang persis dengan aslinya. Cara berpakaian Sang Puteri tetap mencirikan keberadaannya di keraton Surawisesa, dengan berhiaskan mahkota dikepalanya, dan kemolekan tubuhnya serta parasnya yang ayu membuat rasa kagum bagi yang menggambarnya. Pantas saja Prabu Hayam Wuruk begitu penasaran dengan kecantikan Puteri Sunda itu, sehingga mengutus juru gambar untuk membuktikannya.
Setelah kembalinya Sungging Prabangkara ke Majapahit dengan membawa hasil gambarnya, lalu Sang Prabu melihat hasil gambarnya, dan tak menyangka sosok Sang Puteri begitu cantik luar dan dalam, bagaikan Dewi Supraba yang turun dari kahyangan, ia sangat begitu tertarik dan cocok dengan isi hatinya. Akhirnya Sang Prabu siap untuk menjadikannya calon prameswari untuk mendampingi di singgahsananya, kedaton Majapahit. Kemudian Prabu Hayam Wuruk mengutus Patih Madu untuk menyampaikan pesan ke kerajaan Sunda Galuh, atas lamaran pernikahannya, untuk menjadikan Sang Puteri sebagai isteri, dan acara pernikahannya akan dilaksanakan di kedaton Majapahit.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-3-menggambar-sang-prameswari.html?m=1

Karya 4 : Sunda Galuh Di Negeri Wilwatikta

Karya ke empat menceritakan ketika Puteri Citraresmi dibawa di atas tandu oleh para prajurit pasukan Bela mati. Ia telah sampai di wilayah negeri Wilwatikta “Majapahit” bersama ayahanda, ibunda, dan para dayang-dayangnya untuk mempersiapkan acara pernikahannya Sang Puteri dengan Prabu Hayam Wuruk di kedaton Majapahit. Kedatangannya hanya sebagai acara pernikahan, sehingga tidak terlalu membawa banyak pasukan, namun pasukan yang dibawa adalah pasukan Bela mati yang dipimpin oleh Patih Anepaken, untuk menjaga dan mensiasati bila terjadi sesuatu di luar perkiraan.
Keberangkatannya menuju Majapahit, Maharaja Prabu Linggabuana beserta Sang Puteri dan pengiringnya, semua mengenakan pakaian serba putih, sebagai tujuan untuk melaksanakan acara adat pernikahan. Sesampainya di wilayah Majapahit, tepatnya di daerah Bubat, terlihat gapura batu bata merah yang ada pada setiap perbatasan, sebagai ciri gapura Majapahit. Hutan di sekelilingnya masih begitu alami, dengan aliran sungai yang mengalir menuju lautan pesisir utara. Nampaknya langit sudah mau menjelang sore untuk berganti malam, sehingga perjalanan pun harus diistirahatkan, untuk menyiapkan tenda, karena akan bermalam di daerah Bubat, sambil menunggu kabar dari pihak Majapahit.
Maharaja Prabu Linggabuana justru merasa heran, sesampainya rombongan mempelai wanita sudah tiba di Bubat, Majapahit, namun tak ada sambutan satupun dari pihak Prabu Hayam Wuruk. Akhirnya diutuslah Patih Anepaken untuk datang ke kedaton Majapahit, untuk menyampaikan kabar bahwa Sang Puteri telah tiba di Bubat, Majapahit. Karya ke empat ini hanya bercerita ketika Sang Puteri dengan pasukan Bela mati, beserta rombongan Maharaja Prabu telah sampai di Majapahit, negeri Wilwatikta, tepatnya di daerah Bubat.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-4-sunda-galuh-di-negeri-wilwatikta.html?m=1

Karya 5 : Lautan Darah Palagan Bubat

Kabar berita dari Patih Anepaken setelah menemui Mahapatih Majapahit, telah disampaikan kepada Maharaja Prabu Linggabuana. Maharaja Prabu begitu marah dan kecewa dengan Prabu Hayam Wuruk, apalagi dengan perkataan Mahapatih Gajah Mada, yang akan menyerang Sunda Galuh jika tidak menyerahkan Sang Puteri sebagai upeti. Maharaja Prabu Linggabuana tidak akan menghendaki permintaan Mahapatih, ia akan tetap mempertahankan harga diri dan kedaulatan Sunda Galuh. Akhirnya terjadi perlawanan yang begitu tidak seimbang, peperanganpun terjadi, dari pihak Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dengan pasukannya Bhayangkari, dan dari pihak Sunda Galuh dipimpin Maharaja Prabu Linggabuana beserta pasukannya Bela mati.
       Peperangan terjadi, saling melawan dan membunuh, seperti pada bentuk visual karya ke lima, yang menampilkan sosok Maharaja Prabu Linggabuana yang melawan Mahapatih Gajah Mada. Mereka bertarung dengan menggunakan senjatanya, Maharaja Prabu Linggabuana menggunakan kujang ciung, sedangkan Mahapatih Gajah Mada menggunakan senjata keris. Sebenarnya ini merupakan penyerangan bukan perang, karena pihak Majapahit lebih banyak ketimbang Sunda Galuh, dan bukan niat awal untuk berperang, akhirnya banyak korban yang mati dari pasukan Sunda Galuh.
        Sang Puteri begitu sedih melihat kekacauan di Bubat, ia menangisi peristiwa yang sedang terjadi sambil memegang kujang kecil yang menjadi teman sejatinya. Setelah melihat begitu banyak korban yang mati dari Sunda Galuh, tak sengaja iapun melihat ayahnya yang sedang bertarung melawan Mahapatih Gajah Mada, dan menyaksikan sendiri ayahandanya mati tertusuk kerisnya Mahapatih Gajah Mada. Semua darah berceceran dimana-mana, senjata bertebaran, Sang Puteri segera menemui ayahandanya dengan tangisan yang begitu mendalam. Akhirnya semua pasukan Sunda Galuh gugur di Bubat, dan Sang Puteri segera mempersiapkan untuk melakukan bela pati, sebagai bukti cinta kapada orang tuanya, dan keikhlasan membela negerinya.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-5-lautan-darah-palagan-bubat.html?m=1

Karya 6 : Bela Pati Puteri Mahkota

Langit tak selamanya terang, ketika diawali dengan terbitnya Sang fajar menyingsing, maka akan diakhiri dengan langit senja yang akan segera berganti malam. Setelah gugurnya Maharaja Prabu Linggabuana beserta pasukannya Bela mati, kemudian tepat dengan langit senja yang menjadi saksi ketika Sang Puteri Citraresmi melakukan bela pati, Sang Puteri segera menusukkan kujangnya pada bagian jantung, untuk segera menyusul ayahandanya. Suasanapun menjadi kelam, sunyi namun mencekam, jerit tangis para dayang-dayang yang masih hidup begitu sedih, karena ditinggal pergi Sang Puteri dan semua kerabatnya, tak lama kemudian segera para dayang-dayang ikut menyusul dengan melakukan bela pati.
     Tak habis pikir, niatnya datang ke Majapahit untuk acara pernikahan Sang Puteri Citraresmi dengan Prabu Hayam Wuruk, namun yang ada adalah bencana, bagaikan lautan darah yang terjadi di Palagan Bubat, Majapahit. Ternyata Sang Raja Majapahit tidak menepati janjinya, ia kalah dengan kemauan dan perintah dari Mahapatihnya. Semua di balik peristiwa terjadinya peperangan di Palagan Bubat adalah Mahapatih Gajah Mada, karena atas dasar untuk menepati sumpah Amukti Palapanya, untuk menyatukan seluruh kerajaan di Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, yang kebetulan salah satunya adalah kerajaan Sunda Galuh.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-6-bela-pati-puteri-mahkota.html?m=1

Karya 7 : Di Pelaminan Impian

Langit seakan berubah menjadi agak gelap untuk berganti malam hari, suasana di Palagan Bubat makin sepih, Sang Puteri telah pergi untuk selamanya. Pada kisah ini langit senja dan palagan bubat telah menjadi saksi bela pati Sang Puteri Ayu dari negeri Sunda Galuh. Melihat kabar kekacauan yang telah terjadi di Bubat, segeralah Prabu Hayam Wuruk datang, ia kaget dengan melihat mayat-mayat para prajurit serta senjata-senjata yang masih berserakan, dan darah yang berceceran dari tubuh para prajurit yang gugur.
       Sang Prabu seakan tak mampu melihat keadaan di sekitarnya, dan teringat akan Sang Puteri, ia segera menuju ke arah perkemahan Sang Puteri. Dari kejauhan betapa kagetnya, ternyata melihat sosok Sang Puteri yang berhiaskan mahkota dengan pakaian putih sedang dalam keadaan terkulai. Sang Prabu langsung mendekatinya, dan ternyata itu adalah mayat Puteri Citraresmi, calon prameswarinya. Sang Prabu langsung memeluknya, menangis, dan meratapi atas kepergiannya, ia tidak menyangka kalau Sang Puteri melakukan bunuh diri seperti para dayang-dayang lainnya. Hati Sang Prabu kini begitu sakit, ia merasa bersalah pada Maharaja Prabu Linggabuana, atas janjinya yang tidak ditepati, yang tujuannya untuk acara pernikahan di Majapahit, tetapi malah terjadi suatu pertumpahan darah.
Penulis : Endang Adi Sutomo

Sumber: http://tomoglasspainting.blogspot.co.id/2015/06/karya-7-di-pelaminan-impian.html?m=1