Tuesday, October 4, 2016

Cerita dalam Selembar Lukisan Kaca

HIDUP memang bukan soal nasib melulu. Jro Dalang Diah menghidupkan harapan warga Desa Nagasepaha, Buleleng, Bali, dengan selembar kaca. Lewat lukisan kaca, ia mewariskan kisah-kisah moral dalam wayang sekaligus memberi denyut ekonomi, yang jadi sumber penghidupan warga sampai kini.

Dua cucu Jro Dalang Diah, I Ketut Santosa (43) dan I Wayan Arnawa (43), tak bisa membayangkan andai kata kakek mereka dahulu tidak menciptakan lukisan kaca. Sejak zaman kakek buyut mereka yang bernama I Gede Wenten, kehidupan keluarga ini sepenuhnya ditopang oleh jalan kesenian. ”Kami sekeluarga sampai sekarang tidak punya sawah atau kebun untuk bertani,” kata Santosa. Ia mengibaratkan ”kebun” hidupnya ada pada selembar lukisan kaca, keahlian yang diwariskan kakeknya.

Menurut cerita Jro Dalang Diah (bernama asli I Ketut Negara, wafat pada usia 101 tahun), seperti yang dituturkannya kepada sastrawan I Made Adnyana Ole, ia belajar melukis, memahat, dan membuat bade (menara jenazah untuk upacara ngaben) dari ayahnya, I Gede Wenten. Wenten sekitar awal abad ke-20 dikenal sebagai pengukir dan pembuat bade di daerah Buleleng. ”Katanya, Jro Dalang Diah belajar secara tidak langsung dari ayahnya. Ia ikut dan melihat segala aktivitas kesenian ayahnya,” kata Ole.

Bedanya kemudian, jika Wenten menurunkan kreativitas seni kepada anak dan cucunya, Jro Dalang Diah mengajarkan teknik melukis kaca kepada siapa saja di Desa Nagasepaha. Bahkan, anak dan cucunya kemudian mengajarkan seni lukis kaca nagasepaha kepada murid-murid di sekolah atau sanggar kegiatan belajar di sekitar desanya. Sampai sekarang I Ketut Suamba (71), anak keempat Jro Dalang Diah, masih mengajar melukis kaca di sebuah sanggar kegiatan belajar di Nagasepaha. Santosa juga sedang mengajar di sebuah sekolah dasar untuk pelajaran ekstrakurikuler. ”Di sini ekskul sudah diisi dengan belajar melukis kaca,” kata Santosa.

Teknik melukis

Jro Dalang Diah memadukan teknik melukis Bali dengan melukis di atas kaca. Selain melukis dengan cara terbalik, melukis kaca nagasepaha dimulai dengan membuat sketsa di atas kertas, kemudian nyigar atau memindah sketsa ke atas kaca, nyawi (mengarsir bagian-bagian lukisan), memberi warna, dan terakhir menggambar latar. ”Bagian nyawi itu yang terpenting karena sangat menentukan gelap terang serta dimensi lukisan,” kata pengajar seni rupa Universitas Ganesha Singaraja, Polenk Rediasa.

Teknik melukis seperti ini, kata Polenk, sebenarnya sama dengan teknik melukis bali, sebagaimana yang dilakukan para pelukis bergaya Ubud. Cuma, karena memakai medium kaca, teknik melukis nagasepaha sedikit lebih rumit. ”Semuanya harus dibuat terbalik. Pekerjaan awal akan jadi bagian muka, jadi harus dihaluskan,” ujar Polenk. Berbeda dengan melukis di atas kanvas, di mana sentuhan terakhir yang menentukan selesainya sebuah lukisan.

Menurut Polenk, penemuan paling mutakhir dari Jro Dalang Diah, justru pada teknik melukis di atas kaca, yang pasti berbeda dengan teknik melukis kaca di Cirebon atau di Yogyakarta. Selain menggunakan media kaca, Jro Dalang Diah, juga menemukan tinta cina dan cat kayu merek tertentu, yang sesuai dengan kaca. Seluruh media itu sampai kini masih dipergunakan untuk membuat lukisan kaca.

Hal yang paling menarik, apa yang dikerjakan Jro Dalang Diah dalam memenuhi pesanan I Ketut Nitia untuk mencoba melukis wayang di atas kaca tahun 1927, kemudian menjadi pekerjaan yang disakralkan. Lukisan-lukisan pertama Jro Dalang Diah diperlakukan sebagai artefak sakral dan dipakai sebagai ornamen di pura. Kemungkinan itu bermula, menurut penulis seni rupa Hardiman, dari unsur penghayatan terhadap laku kesenian. Di Bali, kesenian hampir selalu dipandang dari perspektif yadnya (persembahan suci kepada Tuhan).

Pekerjaan seperti membuat bade atau mengukir pura adalah pekerjaan yang selalu bermuatan yadnya. ”Semuanya dilakukan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih. Tidak jarang mereka berpuasa sebelum menjalani laku kesenian,” kata Hardiman.

Sebelum melukis kaca, kata Santosa, Jro Dalang Diah, melukis kisah Ramayana di atas papan kayu. Lukisan Ramayana itu sampai kini masih dipergunakan sebagai dinding depan bale piasan di pura keluarga. Meski kondisi lukisannya sudah mengabur, tetapi tak satu pun keturunan Jro Dalang Diah berani melakukan restorasi. ”Itu disakralkan, kami tidak berani untuk sekadar melukis ulang,” kata Santosa.

Artefak sakral

Lukisan kaca karya Santosa dan pamannya, I Ketut Suamba, hingga kini juga ditemukan menjadi artefak sakral di pura keluarga. Di masa tahun 1980-an, menurut pengamatan Hardiman, banyak pura di sekitar Buleleng menggunakan lukisan kaca nagasepaha sebagai artefak sakral. ”Belakangan terjadi perubahan, di mana pura mulai menggunakan ukiran dari pasir hitam,” katanya.

Secara bersamaan lukisan kaca karya para seniman dari Desa Nagasepaha juga dijajakan di jalan-jalan. Bahkan pada tahun 1980-an hingga 1990-an, tidak jarang para pelukisnya sendiri berkeliling di kota-kota di Bali untuk menjual lukisan. Pada sisi itu, lukisan kaca nagasepaha seperti berkelas jalanan, termarjinalkan, jika tidak bisa disebut murahan. Mungkin disamakan kelasnya dengan lukisan pemandangan dari para seniman di Kampung Jelekong, Bandung.

Kini tak lagi ditemui para seniman menjajakan lukisan nagasepaha di jalan-jalan. Lukisan kaca seperti kembali menjadi milik keturunan Jro Dalang Diah. Di luar keluarga ini, masih ada beberapa pelukis yang mencoba bersetia pada kaca. Sebut misalnya nama-nama yang populer seperti I Kadek Suradi (35) dan I Ketut Samudrawan (40). Keduanya adalah seniman populer di luar keturunan langsung Jro Dalang Diah, yang kemudian mengembangkan tema-tema lukisan kaca. Suradi mencoba melakukan eksplorasi visual, yang menggambarkan tokoh-tokoh wayang dalam keadaan bergerak. Sementara Samudrawan membawa tokoh-tokoh wayang ke alam kehidupan masa kini. Misalnya ia melukiskan tokoh Hanoman mengendarai sepeda motor.

Penemuan Jro Dalang Diah, tentu saja tak sebatas teknik melukis di atas kaca, yang kemudian tumbuh menjadi sumber ekonomi warga Nagasepaha. Bagian terpenting dari itu, sebagai dalang ia telah menemukan medium kontemporer (kaca), untuk mengomunikasikan kisah-kisah moral dalam dunia pewayangan. ”Bagaimana bersikap ksatria, berani berkata jujur, tidak dengki, dan menjauhi perbuatan tercela, semuanya ada dalam kisah wayang,” kata Polenk Rediasa.

Di saat generasi kini mulai jauh dari seni pertunjukan wayang, karya lukisan kaca Jro Dalang Diah beserta para penerusnya menjadi warisan yang amat berharga. ”Karena kaca, kan, medium yang tidak asing di era kini. Bahkan kaca cermin, menjadi kebutuhan kita sehari-hari untuk melihat diri. Refleksi itulah yang ditumbuhkan oleh Jro Dalang,” tambah Polenk.

Barangkali ini pulalah yang mendasari kreativitas Santosa untuk menjajal medium kaca dalam bentuk berbeda. Ia tak lagi hanya melukis di atas kaca datar, tetapi sudah merambah mengerjakan benda-benda interior, seperti toples dan gelas atau hiasan apa pun yang terbuat dari kaca. ”Sedapat mungkin gambarnya wayang karena wayang ibarat cermin moral kita,” kata Santosa.

Kini memang tak banyak lagi yang berani melukis wayang di atas kaca. Dalam hitungan Santosa dan Arnawa, setidaknya sekitar 20 seniman masih melukis kaca dan menatah wayang di Desa Nagasepaha. ”Dulu mungkin sekitar 50 orang di tahun 1980-an,” katanya. Tetapi jumlah tidak menjadi perhitungan benar, di tengah kedalaman nilai yang ditanamkan ”leluhur” penemu lukisan wayang nagasepaha. Jro Dalang Diah telah menemukan medium kontemporer untuk terus-menerus mewariskan ajaran-ajaran hidup yang tak pernah habis digali dari kisah-kisah dunia pewayangan. (Putu Fajar Arcana)

Sumber:  http://travel.kompas.com/read/2015/03/09/110211527/Cerita.dalam.Selembar.Lukisan.Kaca

Teknik Pembuatan Lukis Kaca

Membuat lukis kaca sangatlah mudah, hanya saja harus extra teliti.
Ada banyak hal yang harus dipahami:

1. Dengan ketelitian Pelukis Kaca harus mampu untuk menghindari kesalahan dalam pengecatan, apalagi dalam Lukisan Kaca Cirebon dikenal dengan penggunaan Gradasi warna atau pewarnaan yang menganut Gelap ke Terang dan Terang ke Gelap. Keteilitan dalam menggoreskan kwas agar tidak menabrak kontour (garis gambar), ketelitian dalam mencampur/mengoplos warna dan ketelitian dalam menentukan ragam hias.
2. Dengan keterampilan Pelukis Kaca dituntut untuk bisa berkreasi dalam menciptakan desain dengan kekayaan ragam hias. Tanpa keterampilan yang dimiliki , mustrahil akan menciptakan karya yang indah dan enak dipandang. Tanpa keterampilan yang dikuasai, tidaklah mudah menciptakan kreasi-kreasi baru yang mampu melahirkan daya pesona.
3. Dengan kesabaran Pelukis Kaca harus mampu menahan emosional berkarya tanpa rencana, karena kesabaran itu justeru akan memacu dalam mengekploitir imajinasi menjadi ide dan kreatifitas yang maksimal. Dalam hal melukis diatas kaca dengan media yang licin, maka kesabaran kita dimulai sejak awal menggoreskan pena atau rapido yang sangat menentukan kelenturan garis yang dibuat. Selanjutnya kesdabaran terus dituntut ketika memulai pengisian cat dengan gradasi warna, satu sama lain harus mempunyai jeda waktu untuk menghindari percampuran warna yang tidak diinginkan.
Dengan memiliki 3 (tiga) hal tersebut diatas, barulah kita bisa mencoba dasar-dasar teknik melukis kaca Cirebonan yang kami urutkan secara sederhana sehingga mudah untuk dipraktekan, sebagai berikut :
1. Membuat Desain Gambar.

Membuat Desain Gambar tidaklah semudah yang kita perkirakan, karena gambar-gambar gaya Cirebon memiliki ragam hias yang spesifik. Untuk itulah sebaiknya mencari contoh gambar yang baku, seperti Motif Wayang misalnya. Motif Wayang yang kita pilih pindahkan ke kertas gambar lain yang ukurannya sudah ditentukan. Kemudian buatlah ragam hias dengan mengkombinasikan Mega Mendung atau Wadasan sebagai hiasan depan maupun latar bagian belakang. Ketika jadi maka Wayang akan dikelilingi ragam hias khas Cirebonan yang menarik dan siap diisi cat dengan gradasi warna yang dipilih.
2. Memindahkan Gambar ke Media Kaca.

Memindahkan Gambar ke Media Kaca dengan meletakan kertas desain dibalik kaca dan memindahkannya dibagian muka dengan pena atau rapido warna hitam. Kontour (garis gambar) yang dibuat haruslah lentur tanpa tyerputus-putus, agar nati ketika diiisi cat maka kontour itu sebagai pembatas yang mampu menahan lelehan cat basah. Gaya Klasik pada Lukisan Kaca Cirebon garis gambar bisa bermacam warna karena menggunakan pena dengan cat langsung. Berbeda dengan Gaya Modern yang menggunakan rapido dalam pembuatan kontour (garis Gambar) hanya berwarna hitam.
3. Mengisi Cat pada bidang gambar.

   Mengisi Cat pada bidang gambar yang telah berisi kontour-kontour , maka warna pertama yang dipoleskan diatasnya (dengan catatan bahwa kita telah menentukan Warna Gelap ke Terang atau sebaliknya). Hati-hati agar tidak menabrak batas garis (tidak meleber keluar garis), polesan haruslah halus dan konstan (dengan tekanan kwas yang sama). Jika warna pertama selesai, biarkan beberapa menit untuk mengeringkan cat. Kemudian lakukan kembali pengecatan dengan warna kedua dan seterusnya hingga selesai. Harus diingat Gradasi warna khas Cirebonan akan tampil indah jika tidak saling bercampur, artinya garis warna tegas, sama tebal dan sesuai urutan warna.
4. Mewarnai Ragam Hias.

Mewarnai Ragam Hias biasanya setelah selesai mewarnai objek utama, hal ini agar dapat memberikan nuasa warna yang mempunyai image 3 dimensi. Teknik seperti ini penekanannya pada pemilihan warna yang lebih tua dan tegas untuk ragam hias bagian depan objek. Sementara ragam hias bagian belakang objek, lebih ditekankan pada warna-warna bias, yang memberikan kesan jauh sehingga image 3 dimensi dapat terpenuhi. Ornamen Mega Mendung harus diletakan dibagian atas, yang dimaksudkan untuk memberikan kesan langit dan awan. Dan Ornamen Wadasan diletakan dibagian bawah atau dasar yang memberikan kesan tanah atau bebatuan. Singkatnya Objek Wayang akan dikelilingi ragam hias bagian bawah, atas , depan,belakang , kiri dan kanan, sesuai dengan aturan teknik melukis kaca Cirebonan umumnya.
5. Membuat Latar Bagian Belakang Gambar (Background).

Latar Bagian Belakang (Background) diperuntukan untuk mengisi kekosongan bagian belakang untuk mendapatkan gambar yang terkesan penuh, Biasanya menggunakan 2 (dua) cara, pertama dilakukan pada media kaca yang sama dan kedua dilakukan pada media tripleks penutup. Cara yang kedua itulah yang memberikan kesan 3 Dimensi, karena ada jarak diantara kaca dan tripleks penutup. Umumnnya gambar yang dibuat sebagai background berupa polesan semprotan phyloc beragam warna dan tipis atau menggunakan bantuan tali rafia yang diususun berjejer dan disemprot phyloc warna.
6. Memasang Bingkai.

Memasang Bingkai pada umumnya sama dengan pemasangan bingkai pada lukisan lainnya. Bingkai akan dipasang ketika Lukisan kaca yang dibuat sudah cukup kering. Pemberian penutup tripleks yang berisi gambar background harus diberikan jarak beberapa milimeter dari kaca berisi gambar utama. Bingkai bagian belakang yang telah tertutup harus diberi lakban agar rapih dan jan gan lupa gantungan plus talinya di pasangkan.
Demikian secara singkat dan sederhana Teknik Melukis Kaca secara sederhana , mudah-mudahan bermamfaat bagi anda dan dapat dipraktekan dirumah anda.
“SEMOGA SUKSES”

Sumber: https://sanggaralamsunyaragi.wordpress.com/produk-sanggar-alam-sunyaragi/teknik-pembuatan-lukis-kaca/

Wayang Kaca Nagasepaha

Budaya China ditambah budaya Arab yang melahirkan seni lukis kaca di Indonesia.yang berkembang di Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng,Lukisan di atas kaca yang muncul sekitar tahun 1927 itu masih memiliki generasi dalam satu keturunan dari pelukisnya, Jro Dalang Diah (100).Bahkan, lima tahun terakhir lukisan ini kembali bangkit dan dikoleksi para kolektor intelektual dari beberapa daerah, termasuk Jakarta. Padahal, pada masa kejayaannya, kolektornya justru dari kalangan petani kopi dan jeruk yang kaya.

Kurator dan dosen Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Buleleng, Hardiman, mengatakan, karya lukis di atas kaca ini kembali memasuki masa kebangkitannya setelah bergelut dengan seni modern.”Bahkan, tema-tema lukisan kaca berkembang dari pewayangan ke gambar modern, seperti perkembangan politik atau pergolakan pemuda,” katanya pada pembukaan Pameran Seni Lukis Kaca Nagasepaha di Bentara Budaya Bali, Sabtu (17/10) malam.


Sumber: http://www.antarafoto.com/bisnis/v1339052113/lukisan-wayang-kaca

Pelestarian
Ia menambahkan, Jro Dalang Diah yang menjadi pelukis pertama Pulau Dewata ini telah menurunkan bakat alamnya kepada anak-anak dan cucunya. Mereka, antara lain, adalah I Nyoman Subrata, Ketut Suamba, Kadek Nurining, dan Ketut Santosa. Ada pula Made Sukrawa, Ketut Sumadrawan, Kadek Suardi, Ketut Sekar, Wayan Arnawa, Gede Kenak Aryadi, serta Kadek Wijana.Hal senada diungkapkan Pande Wayan Suteja Neka, kolektor dan pemilik Neka Art Museum. Ia menambahkan, gaya Nagasepaha memiliki kekhasan sendiri di antara gaya seni lainnya di Bali, seperti Kamasan, Ubud, dan Batuan.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Bali Efix Mulyadi mendukung upaya untuk turut melestarikan serta mengembangkan budaya dan seni seperti lukisan kaca asli Bali ini. Menurut dia, lukisan ini memiliki proses pengerjaan yang unik dan menjadi bermakna karena kelangkaannya.Dalam pembukaan tersebut, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesa Dr I Made Sutama menyumbangkan sebuah sketsa gambar wayang di atas kertas bungkus semen sebelum menjadi lukisan wayang kepada Bentara Budaya Bali. I Made Sutama juga mengatakan, sketsa-sketsa tersebut menjadi koleksi langka asli guratan Jro Dalang Diah dan saat ini hanya tinggal beberapa lembar saja. Selain itu, hadir pula dalam pembukaan pameran tersebut sejumlah pelukis dan kolektor, termasuk kolektor seni dari Jakarta, Adrian Pala dan Tossin Himawan. Pameran menggelar 52 lukisan kaca dan berlangsung hingga 27 Oktober mendatang. (ANS/AYS)

sumber: http://female.kompas.com/read/2009/10/19/09444946/seni.lukis.wayang.kaca.nagasepaha.belum.punah

Latar belakang sejarah yang berhubungan

Lukisan kaca di Nagasepaha Buleleng pada mulanya hanya bertema wayang. Ada adegan Ramayana, Mahabarata, Sutasoma, Arjunawiwaha,Bahan yang dibutuhkan untuk membuat lukisan kaca adalah tinta China, cat kayu, dan lembar kaca bening

Namun perlu di ketahui bahwa lukisan kaca pak dro dalang diah bukan lah pioner karena Perkembangan lukisan kaca tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Konon Seni Lukis Kaca ini sudah dikenal sejak abad 17 Masehi. Khususnya di daerah Cirebon. Pada jaman pemerintahan panembahan Ratu di Cirebon, lukisan kaca digunakan sebagai media dakwah agama Islam. Oleh sebab itu bentuk lukisan yang dikenal pada waktu itu hanya dua jenis, yakni berupa kaligrafi, dan gambar wayang.

Pada jaman sekarang Lukisan kaca kota udang ini di lukis dengan tekhnik melukis terbalik, sangat kaya akan gradasi warna dan nuansa dekoratif yang menawan serta menampilkan ragam hias ornament dan motif Mega Mendung serta Wadasan, kemudian lebih dikenal dengan sebutan Batik Cirebon. Kreatifitas seniman ini kemudian menambah jenis lukisan kaca Batik Cirebon dan jaman sekarang dikenal pula lukisan kaca oriental atau umum yang biasanya berupa bunga, wajah, pemandangan dan lain-lain.

Sumber: http://gegesikkidul.cirebonkab.go.id/organisasi-desa/prestasi-seni-dan-budaya/

“Tahapan tekhnis melukis di kaca ini agak berbeda dengan seni lukis yang lain, pertama sketsa dibuat pada kertas kemudian ditempel pada media kaca dan melukis di bidang kaca sebelahnya, ini yang dinamakan dengan tekhnik melukis terbalik, kata Dian, pendiri sekaligus pemilik Sanggar Alam Seni Lukis Kaca Cirebon

Ciri khas lukisan kaca Cirebon adalah Kaligrafi, Wayang dan Batik Cirebon, ada 42 jenis kaligrafi peninggalan para Wali atau Sunan, khusunya Sunan Gunung Jati, semuanya mempunyai makna dan tujuan yang berbeda. Salah satunya adalah Macan Ali berupa tulisan arab dengan lafadz dua kalimat syahadat, kaligrafi ini bertujuan memberikan semangat atau memotivasi pemiliknya agar selalu ingat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Contoh wayang adalah lukisan Ganesha, gambar dua gajah yang satu membawa pedang dan satunya lagi membawa gada. Lukisan ini dipercaya menjaga kekuatan jahat, biasanya di pajang di depan pintu rumah. Untuk lukisan wayang berdasarkan pesanan bagi orang yang percaya dunia perwayangan. Dian menyarankan, lukisan karakter wayang yang dipesan disesuaikan dengan hari weton atau kelahiran si pemesan. Misalnya, kelahiran hari Senin disarankan memilih tokoh Arjuna, Selasa cocok dengan Bima, Rabu Semar, Kamis Hanoman, Jumat Prabu Kresna, Sabtu Baladewa, Minggu Yudistira.

Masing-masing membawa sifat dan kepribadian yang berbeda, dan diharapkan membawa pengaruh baik bagi pemilik lukisan apabila pasanannya berdasarkan rambu-rambu weton di atas. Sanggar Alam milik Dian Mulyadi yang berdiri sejak tahun 1997, menawarkan dua harga yang berbeda. “Untuk harga jual barang yang sudah ada, ukuran kaca; 20 x 30 cm dan bingkai 6 cm Rp.80.000, ukuran 30 x 40cm Rp.150.000, 40 x 50cm Rp.300.000, 55 x 75cm Rp. 450.000 dan 120 x 70cm ukuran bingkai 8 cm Rp.1.000.000 pembelian lebih dari 5 unit mendapat potongan 10 %.

Sedangkan untuk harga pesanan dikenankan biaya tambahan, biasanya mencapai tiga kali lipat harga produksi. “Dalam proses pengerjaan pesanan khusus di butuhkan ritual tertentu dan memakan waktu sedikit lama,” ujar Dian.

sumber:  http://erawisata.com/cinderamata/cinderamata/lukisan-kaca-cirebon-warisan-budaya-wali-songo.htm

Melukis Kisah Pewayangan di Atas Kaca

Karya lukisan wayang pada media kaca yang sarat makna di Menang, Kabupaten Kediri. Sudah sampai di tangan Jokowi dan Prabowo.

IMRON AGUS TRIONO jongkok di teras depan rumahnya. Jemari tangannya memegang silet, memangkas ‘rambut’ kuas cat air. “Biar runcing. Enak digunakan mengecat di atas kaca,” kata Imron.

Sebenarnya, ada kuas khusus. Namun, harganya lebih mahal. Imron juga sudah terbiasa dengan kuas murah yang dimodifikasi sedemikian rupa itu.

Usai meraut kuas, pria 40 tahun ini masuk ke ruangan rumah paling depan. Sebuah ruang berukuran 4 x 5 itu dimodifikasi menjadi sanggar merangkap galeri. Ruangan yang terkesan berantakan. Ada motor bebek. Tumpukan kardus. Perkakas yang tersebar di beberapa sudut ruang. Rak kayu berisi belasan kaca.

Sejumlah lukisan kaca bergambar lakon pewayangan terpajang di dinding. “Itu lukisan Arjuna Wiwaha,” paparnya, sembari menunjuk lukisan yang menggambarkan Arjuna dan raksasa Niwatakawaca. Sebuah kisah yang merujuk pada kisah pewayangan Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa pada 1030 Masehi.

Harga lukisan Arjuna Wiwaha ini Rp 7 juta. Selain itu, juga terdapat lukisan Panji Asmorobangun Rp. 2,5 juta. Di samping pintu masuk rumahnya, ada kaca berukuran 1,5 meter X 1 meter yang belum terlukis di atas meja.

Lukisan lakon pewayangan adalah ciri khas Imron yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Melalui karya ini, saya ingin mengangkat budaya Jawa,” tegasnya.

RUMAH MERANGKAP SANGGAR itu terletak tepat di depan kawasan Sendang Tirto Kamandanu, di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Sebuah kawasan yang dikeramatkan. Konon sebelum moksa (menghilang), Raja Kediri Sri Aji Joyoboyo mandi di Sendang Tirto Kamandanu.

Atmosfer lingkungan menempa Imron untuk mencintai budaya Jawa. Terlebih, dia juga punya darah seniman dan spiritualis Jawa. Ki Suratin, ayahnya adalah juru kunci di Sendang Tirto Kamandanu. Selain menjadi dalang, ayahnya juga pembuat wayang kulit. “Sejak kecil, saya belajar natah wayang dari ayah,” kata anak ketiga Suratin ini.

Menginjak dewasa, dia sudah punya ciri khas. Melukis wayang di atas kulit kambing. Dia mulai terinspirasi lukisan di atas kaca sejak delapan tahun silam. Ketika itu, dia melihat lukisan kaca lama yang sudah pecah di rumah eyangnya yang dikenal dengan sebutan Mbah Carik. Dia sangat terkesan dengan lukisan kaca Arjuna dan Punakawan itu.

Dia melihat kelebihan penggunaan kaca sebagai media lukisan. Guratan cat di atas kulit mudah pudar dimakan usia, bahkan bisa luntur terkena air. Maka, dia mulai mengumpulkan uang untuk membeli kaca. Kemudian melukis wayang di atas kaca. Dia menggunakan cat besi, sehingga warna lebih awet.

Lukisan kaca pertama yang dijualnya adalah ‘Puntodewo dan Arjuna’, seharga Rp 75 ribu. Imron diuntungkan karena dia sudah punya nama sebagai pelukis wayang di atas media kulit kambing. Maka, permintaan membludak.

Dalam satu bulan, dia bisa membuat 15 lukisan berukuran sedang per bulan. Ukurannya berkisar 70 cm x 40 cm. “Saya jual 125 ribuan,” paparnya.

Namun, untuk satu lukisan berukuran besar, dia bisa dalam tempo dua bulan. Contohnya; lukisan Arjuna Wiwoho dan Panji Asmoro Bangun. “Kalau harga tergantung kerumitan dan lama produksi,” katanya.

Urutan kerjanya: jika memperoleh ide, Imron menggambar di atas kertas yang hendak dijadikan mal. Setelah itu, dia langsung melukis dengan acuan dari mal ini. Keunikan sekaligus kerumitannya, melukis kaca ini terbalik. Bagian yang ditonjolkan justru bagian balik yang dilukis.

“Lukisan kaca ini memiliki makna. Kaca ‘kan tembus. Rasa saya, gambar saya tembus di situ,” paparnya sembari tersenyum, berteka-teki.

LukisanKaca-7Karya Imron ini bahkan sudah sampai ke tangan tangan Joko Widodo dan Prabowo, namun melalui tangan orang lain yang memberikan cinderamata sebelum hiruk pikuk Pilpres. Lukisan kaca di tangan dua orang yang bertarung dalam Pilpres ini bertajuk sama; Jagat Gumelar.

Lukisannya bahkan juga dipesan untuk menjadi cinderamata di Museum Tejowulan, Solo. Bahkan, dia sempat jadi langganan seorang ahli spiritual asal Malang. Ahli spiritual sekali pesan bisa 20 – 30 lukisan kaca. Imron juga kerap kali mengikuti pameran yang digelar di berbagai kota di Jawa Timur. Namanya dikenal. Permintaan meningkat. Fisiknya diforsir. Imron sempat vakum dan jatuh sakit.

SETAHUN BELAKANGAN ini Imron absen melukis. Dia menderita gejala ginjal. Entah mengapa, belakangan dia mudah sakit. “Saya pake ini, soalnya gampang masuk angin,” katanya, seraya menunjuk kaos kaki hitam yang dikenakannya menjejak lantai.

Begitu kondisi fit, Imron berusaha berkarya lagi. Dia menyileti lagi kuas-kuas itu dan mencoba melukis lagi. Beberapa bahan lukisan kaca masih ada. Sebagaimana seniman, kegiatan Imron juga bergantung mood.

Melukis juga telah menjadi gantungan hidupnya. Imron tak punya pemasukan selain berjualan lukisan kaca. Tuntutan kebutuhan hidup ini yang menjadi motivasinya untuk berkarya lagi. Toh, pangsa pasar sudah terpapar.

Kendati demikian, Imron masih memiliki sebuah obsesi. Dia ingin memiliki galeri yang apik. Galeri lukisan wayang media kaca ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Sendang Tirto Kamandanu.

Bukan sekadar berkarya untuk nafkah belaka. Dia juga ingin karyanya bermanfaat dan menghibur. Juga melestarikan budaya yang mulai tergerus oleh modernisasi.

“Sekarang, siapa generasi muda yang mau menonjolkan budaya sangat sedikit. Padahal, kalau bicara tentang wayang tak ada bosannya. Karena wayang itu bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan,” paparnya berfilosofi. (Danu Sukendro)

Sumber: http://www.kediripedia.com/melukis-kisah-pewayangan-di-atas-kaca/

Berburu lukisan kaca khas Cirebon, karya seni media dakwah Islam

Seorang pengrajin tengah melukis wayang pada sebuah kaca di toko souvenir, di Cirebon, Jawa Barat. Sejak abad ke-17 masehi, lukisan kaca sudah dikenal di Cirebon.

Awalnya lukisan kaca ini hanya ada dua jenis, yakni gambar wayang dan tulisan ayat suci Alquran atau kaligrafi. Lukisan kaca bergambar wayang dan kaligrafi itulah yang dimanfaatkan sebagai media penyebaran agama Islam.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu kini lukisan kaca sudah banyak jenisnya, dari bergambar binatang, tanaman, hingga batik.
Berburu lukisan kaca khas Cirebon, karya seni media dakwah Islam.Lukisan kaca kini sudah dikenal sebagai cinderamata khas Cirebon.

Sumber: https://m.merdeka.com/foto/peristiwa/487138/20150120174636-berburu-lukisan-kaca-khas-cirebon-karya-seni-media-dakwah-islam-004-nfi.html

Monday, October 3, 2016

Artistik, Goresan Lukis Kaca

BANTUL – Jagat seni lukis semakin berwarna dengan adanya teknik melukis kaca. Meski tidak sepopuler lukis kanvas, hasil karya ini memiliki nilai artistik tersendiri. Inilah yang coba dihadirkan dalam pameran Penjinak Kaca di Galeri Tembi Rumah Budaya, Sewon Bantul. Pameran yang berlangsung hingga 11 Agustus ini melibatkan empat pelukis kaca. Mereka adalah Ketut Santosa dari Bali, Hadi Koco dari Surabaya, Rina Kurniyati dari Jogjakarta dan Nugroho asal Magelang. Keempatnya hadir dengan warna yang berbeda antara satu sama lain. ”Mereka tidak melawan arus, tetapi mereka menciptakan kawasan kreatif tersendiri. Mereka inilah gambaran seni lukis kaca kontemporer Indonesia,” kata Kurator Pameran Mikke Susanto belum lama ini.
Mikke menambahkan perkembangan seni lukis kaca telah dikenal sejak lama. Bahkan lukis kaca telah berkembang lebih dulu daripada lukisan modern berupa cat minyak. Lukisan ini mencapai perkembangan pesat antara tahun 1910 hingga 1960-an. Lukisan kaca dikembangkan oleh para seniman di segala penjuru dunia dan kini telah membentuk gaya dan tradisi masing-masing. Lukisan kaca yang menjadi tradisi tersebut akhirnya menjadi penanda sebuah kawasan.  ”Teknik melukis kaca ini menggunakan teknik melukis terbalik, bagian kiri menjadi bagian kanan atau bagian depan menjadi bagian belakang. Model karya ini memiliki efek-efek warna yang terang, tahan lama dan bersih,” kata Mikke.
Keunikan dalam pameran ini, lanjut Mikke, adalah adanya gaya yang berbeda. Ketut Santosa, lahir dari tradisi yang kental terlihat dari hasil karya yang dihasilkan. Perkembangannya pada seni lukis kaca motif cerita wayang, masjid, gereja, kaligrafi dan cerita legenda.  Adapun tiga pelukis lainnya Hadi Koco, Rina Kurniyati dan Nugroho tidak memiliki hubungan dengan tradisi. Intinya mereka adalah para perupa yang menggunakan kaca sebagai bagian dari cara mengungkapkan pribadi.
Ketut Santosa hadir dengan nuansa perpaduan unsur tradisi dengan gaya dekoratif. Lukisan-lukisannya menghadirkan sebuah pesan terutama kepentingan publik. Seperti penyuluhan masyarakat tentang kesehatan atau iklan layanan sosial. Hadi Koco mengusung gaya realis yang melukis segala objek lukisan. Mulai dari portrait, landscape, maupun lukisan simbolisme. Rina Kurniyati menggunakan kaca untuk memadukan dunia sastra dan budaya koleksi mobil-mobil maupun potret selebritis. Sedangkan Nugroho kental dengan aroma ekspresif yang tidak terikat oleh gaya. (dwi/ila)

Sumber: http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.radarjogja.co.id/artistik-goresan-lukis-kaca/&ei=rGo8bc6L&lc=id-ID&s=1&m=742&host=www.google.co.id&ts=1475485504&sig=AF9NedlU6kR70F-ryJ8npR8yd_4Akppo-g

Sunday, October 2, 2016

Lukisan Kaca Tito Sugiarto, Mendobrak dari Solo

Berkembangnya tren melukis kaca untuk hiasan rumah telah menjadi berkah tersendiri bagi Tito Sugiarto. Pak Tito adalah seorang seniman lukis asal kota Solo yang memiliki keahlian melukis kaca. Memiliki keahlian dan pengalaman dalam menuangkan tinta serta menggoreskan kuas diatas kaca hingga terbentuklah sebuah lukisan yang indah.

Keindahan ornamen gambar kaca dalam goresan tangan Pak Tito, menambah kecantikan tersendiri dalam rumah-rumah hunian maupun properti bisnis. Keindahan seni ini melengkapi keindahan bentuk arsitektur dari rumah-rumah pemilik yang telah menggunakan jasa lukisan kaca Pak Tito.

seni-lukis-kaca-solo
Lukisan di kaca yang dilakukan secara manual pada kaca oleh Tito Sugiarto (56). Proses pembuatan membutuhkan waktu hingga satu minggu tergantung dari tingkat kerumitan dan ukuran karya yang akan dibuat.

Pak Tito yang bertempat tinggal di Jl Madyotaman I No 35 Punggawan Solo ini mengaku, bahwa saat ini pemesanan lukisan kaca tidak hanya untuk desain interior, namun mulai banyak juga pesanan untuk eksterior rumah.

Lukisan Kaca Solo
Tito Sugiarto (56) melakukan proses painting dalam pembuatan Kaca lukis (glass painting) di Madyotaman, Solo (9/4). Pembuatan Kaca lukis dilakukan secara manual dan dijual dengan harga kisaran Rp 600 ribu per meter.

Pak Tito mengisahkan, ia hanya melukis lukisan tradisonal di awal ia mengerjakan lukisan kaca. “Saya memulai membuat lukisan kaca ini tahun 90-an. Lukisan kaca yang dibuat dulu lukisan tradisional seperti wayang,” kenangnya. Kini, Tito juga membuat lukisan motif oriental, tradisional seperti batik dan wayang serta motif-motif Eropa.

Teknik lukis kaca yang dibuat oleh Tito adalah sandblasting, glass painting, dan stained glass. “Untuk glass painting saya mengerjakannya sendiri, karena lukisan kaca glass painting ini membutuhkan bahan pewarna dan teknik pewarnaan yang tepat agar hasilnya bisa memuaskan,” jelas Tito. Untuk bahan baku kaca, Tito menuturkan bahwa semua kaca bisa dilukis. Kecuali untuk kaca riben, karena kaca tersebut gelap dan sulit untuk dilukis.

Saat ini, konsumen lukisan kaca Tito ini kebanyakan adalah kelas menengah di seputaran Soloraya. “Saya pernah membuat pesanan lukis kaca untuk President Room di Hotel Kusuma Sahid,” tuturnya. Namun pengerjaan lukisan kaca hanya dilakukan Tito jika ada konsumen yang memesan atau by order. Harga tiap lukisan pun bervariasi. Untuk sandblasting, sang pemilik usaha lukisan kaca ini mematok harga Rp 1,2 juta per meter, untuk glass painting Rp 600.000 per meter, dan untuk stained glass Rp 2 juta per meter.

Sumber: http://www.kerajinan.id/2469/lukisan-kaca.html