Sunday, October 2, 2016

Tulisan Pengantar Pameran Tunggal Lukisan Kaca "Cinta Aksara" Rina Kurniyati

Reporter : Joe
Jogjanews.com - Debut pameran tunggal berhasil ditorehkan perupa wanita Rina Kurniyati pada pameran tunggal lukisan kaca “Cinta Aksara” di Tirana Artspace mulai Minggu (28/7) hingga satu bulan mendatang.

Rina Kurniyati menggandeng temannya, Zuliati, alumni Pengkajian Seni Rupa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta untuk menulis pameran “Cinta Aksara’. Berikut tulisan pameran Zuliati:

Ada yang berbeda pada bidang-bidang lukisan karya Rina Kurniyati. Ia menggunakan kaca sebagai bidang gambar. Kita mengenal dan menyebut karya ini sebagai seni lukis kaca. Seni lukis kaca adalah lukisan menggunakan kaca sebagai bidang gambar.

Cara melukis lukisan kaca dengan menggunakan prinsip terbalik. Dimulai dari membuat pola, kemudian mewarnai bagian belakang kaca. Menggunakan cat dengan kadar minyak sesedikit mungkin.

Tentu saja lukisan dengan media kaca akan member sensasi visual yang menarik  dan menawarkan cara melihat yang berbeda dibandingkan ketika kita melihat karya dengan medium lain seperti kanvas. Kaca mempunyai tingkat ke’kinclong’an yang tinggi.

Beberapa catatan menyebutkan seni lukis kaca dibawa ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan bangsa asing di bumi nusantara. Di antaranya para pedagang Arab, India, Cina, Portugis dan Belanda.  Lukisan kaca berkembang ketika jaman penjajahan Belanda.

Lukis kaca banyak dibuat masyarakat umum karena bahannya yang murah. Lukis kaca biasanya menghadirkan kisah-kisah dalam pewayangan atau cerita-cerita rakyat yang sudah populer. Saat ini sentra-sentra lukisan kaca masih banyak ditemui di daerah Cirebon, Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta.

Lalu,siapakah Rina Kurniyati? Rina Kurniyati lahir pada tanggal 23 Maret 1975 dari pasangan Bapak Daliman dan ibu RA Sulastri. Ia lahir di Kopeng, sebuah daerah perbatasan antara Magelang dan Salatiga, yang berhawa dingin karena terletak tepat di lereng Gunung Merbabu. Anak kedua dari tiga bersaudara.

Pada usia dua tahun, setelah ibunya yang berprofesi sebagai seorang bidan meninggal, Rina diasuh dan tinggal bersama budhenya di Jalan Pramuka, Yogyakarta. Masa kecilnya dihabiskan di Yogyakarta.

Hal yang terekam jelas diingatannya adalah ketika bepergian bersama pakdhe dan budhenya menaiki vespa! Ia berdiri di depan berpegangan pada stang vespa. Karenanya ia bisa dengan leluasa melihat pemandangan.

Rina Kurniyati tidak pernah secara khusus mengenyam pendidikan formal seni rupa. Ia lulus dari SD Kotagede 3 kemudian melanjutkan ke SMP Plered dan SMA N 8 Yogyakarta. Keinginan keluarganya agar ia menjadi pegawai negeri membawanya ke Bandung untuk bersekolah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS).

Di kota inilah ia bertemu dengan laki-laki yang kelak menjadi suaminya, Mikke Susanto.  Akhirnya ia menikah dan dikaruniai dua orang anak laki-laki, Abad dan Bintang.

Setelah menjadi istri dan ibu, waktunya diberikan sepenuhnya untuk mengurusi keluarga kecilnya. Sampai pada suatu ketika anaknya mulai beranjak remaja dan sibuk dengan sekolahnya, ia mempunyai lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri. Membaca adalah hobinya.

Di rumahnya akan dapat dilihat deretan buku mengisi rak-rak kayu. Sejak SMP, ia sudah mengakrabi karya-karya sastra seperti Bhagavad Gita, karya-karya angkatan Balai Pustaka,  Pujangga Baru, seperti Marah Rusli, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana hingga Chairil Anwar.

Juga berbagai majalah seperti Tempo, Time, Intisari, dan lain-lain. Selain membaca, Rina mulai tertarik untuk melukis. Maka, sejak tahun 1999 ia mulai melukis. Dan ia menemukan kesenangan ketika melukis di atas kaca!

Bagi Rina Kurniyati lukis kaca menjadi daya tarik tersendiri. Selain karena bahan-bahan yang digunakan relative murah dan mudah didapatkan, pada lukis kaca ia juga menemukan keasyikan karena dibutuhkan ketelatenan yang luar biasa.

Dimulai sejak membuat pola gambar, kemudian menuangkan cat dan harus memperhatikan bahwa keunikan lukis kaca ada pada cara menggambarnya yang terbalik.

Awalnya, ia banyak melukis wajah teman-temannya. Ia sering mendapat pesanan lukis wajah. Berikutnya ia tidak puas dan ingin mencoba menjelajahi kemungkinan artistik lain. Sampailah ia pada keinginan untuk berpameran tunggal yang ia rangkum dalam judul ‘Cinta Aksara’ diambil dari petikan puisi karya Remy Sylado.

Pada pameran perdana yang akan diselenggarakan di Tirana Artspace mulai tanggal 28 Juli-28 Agustus, kita tidak hanya melihat gambar tetapi juga diajak mencermati teks-teks tulisan yang tertera pada bidang gambar. Gambar dan tulisan itu saling melengkapi dan memberi penguatan satu dengan yang lain.

Bisa jadi, tanpa tulisan karya-karya Rina Kurniyati bak jejeran alam benda berupa potongan bagian-bagian dari kendaraan saja. Akan tetapi, ketika gambar itu hadir bersamaan dengan tulisan mempunyai makna yang berbeda.

Tulisan yang hadir secara bersamaan juga bukan sembarang tulisan, tetapi kutipan-kutipan puisi karya sastrawan yang namanya sudah sering kita dengar seperti Joko Pinurbo, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Darmono, Remy Sylado, Goenawan Muhamad, Sitok Srengenge, dan lain-lain.

Sepintas, tentu sulit mencari kaitan antara kutipan puisi dengan gambar yang dihadirkan Rina Kurniyati. Kita perlu menyelami lebih dalam kehidupan senimannya. Tidak hanya menampilkan daya tarik visual dan kekaguman pada penguasaan teknis lukis kaca.

Namun juga akan membawa kita untuk mengenal lebih jauh kehidupan Rina Kurniyati. Karena sesungguhnya objek yang dilukis oleh Rina Kurniyati adalah hal-hal yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari.

Dari ke-15 karya yang dipamerkan di Tirana Artspace dapat dibagi menjadi empat tema besar. Antara lain tentang kehidupan keluarga, kenangan masa lalu, relijiusitas dan harapan yang menegaskan posisi Rina Kurniyati dalam relasi sosial dalammasyarakat.

Tema keluarga dapat dilihat pada karya yang berjudul “Mainan Bintang”. Mobil yang dilukis Rina adalah mobil kesukaan Bintang, putra keduanya, diikuti dengan kutipan puisi karya Joko Pinurbo (2013): “Masa kecil seperti penjaga malam yang setia”.

Kemudian pada karya yang lain berjudul “Sebab Cinta adalah Kau”, Rina memilih motor Harley Davidson yang mengesankan kegagahan, kemaskulinan, dan petualangan. Ia mengambil bagian depan dari motor Harley Davidson.

Seakan ingin menegaskan bahwa bayangan cinta yang total telah mewujud pada diri Mikke Susanto, cinta yang mampu menjadi pengemudi, menentukan arah dan jalan dalam petualangan kehidupan. Maka ia memilih kutipan puisi karya Joko Pinurbo “Sebab cinta adalahkau yang tak mampuku sebut, kecuali dengan denyut”. Aha! Menarik bukan?

Kita juga dapat menemui lukisan dengan objek vespa. Ada sekitar tiga buah vespa. Dua di antaranya adalah vespa jaman dulu berjudul “Masa Lalu” dan “Teman Masa Kecil” yang disertai kutipan puisi karya Joko Pinurbo (2010) “Di rumah itu mereka tinggal berdua/ Bertiga dengan waktu/ Berempat dengan buku/ Berlima dengan televisi/ Bersendiri dengan puisi”.

Maka bisa ditebak, Rina sedang menghadirkan kenangannya akan masa kanak-kanak yang dekat dengan vespa sebagai kendaraan yang mengantarkan ia kemana pun pergi.

Pada vespa merah jenis Lambretta yang berjudul “Cinta Aksara”, Rina menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah warna. Vespa merah itu sungguh serasi dipadu dengan latar belakang hijau segar dan garis putih untuk mengikat dua warna yang sesungguhnya saling berlawanan.

Di sudut bawah tertera kutipan puisi karya Remy Silado “Kita mesti mendirikan keberanian di hati, menolak pemaksaan cinta dari aksara-aksara”.

Rina, yang mencintai sastra dan sederet buku lainnya menunjukkan keberaniannya untuk tampil sebagai persona mandiri, lepas dari bayang-bayang nama suaminya yang sudah berkibar di kancah seni rupa. Pameran tunggalnya kali ini adalah langkah awal eksistensinya sebagai seorang perupa.

Pada karya yang lain tentu kita juga diajak untuk berteka-teki. Kutipan puisi dalam karya Rina mempunyai bobot sendiri dan member konteks yang menggiring kita untuk merasuk lebih dalam untuk memaknai karyanya. Sesungguhnya karya-karya tersebut telah mencitrakan kehidupan Rina Kurniyati.

Secara teknis, terlihat ketekunan dan ketelatenan Rina untuk memainkan gradasi warna untuk memperoleh efek gelap-terang dan kesan kedalaman pada objek gambar. Tentu itu bukan hal yang mudah karena prinsip lukis kaca yang harus menggambar secara terbalik.

Pameran kali ini menegaskan bahwa lukis kaca di tangan Rina Kurniyati hadir dengan gaya baru. Tidak lagi identik dengan objek-objek tradisi seperti wayang atau cerita rakyat tetapi juga mampu hadir sebagai media yang mengedepankan pencarian dan ekspresi personal seorang Rina Kurniyati.

Sumber: http://jogjanews.com/tulisan-pengantar-pameran-tunggal-lukisan-kaca-cinta-aksara-rina-kurniyati

SENI RUPA LUKISAN NUSANTARA DAN MANCANEGARA

A. Seni Rupa Lukisan Nusantara

1. Lukisan Perburuan Rusa
Raden Saleh Syarif Bustaman (1807), pelopor seni lukis modern di Indonesia yang berhasil menguasai gaya romantis yang lazim di Barat pada abad ke-19. Corak lukisannya beraliran Romantis dan Naturalis. Aliran Romantisnya menampilkan karya-karya yang berceritera dahsyat, penuh kegetiran seperti tentang perkelahian dengan binatang buas. Sedangkan gaya naturalisnya sangat jelas nampak dalam melukis potret. Salah satu karyanya yang beraliran romantis, bertema “Perburuan Rusa”, pada tahun 1846 dengan media cat minyak dan kanvas.

2. Lukisan Alam
Seni rupa dengan jenis seni lain intinya adalah sama yaitu sama-sama buatan manusia yang mengandung ekspresi dan atau keindahan. Namun, seni rupa utamanya dinikmati oleh indra penglihatan. Hal yang dinikmati dalam seni rupa adalah sepert apa yang telah diuraikan sebelumnya, yakni kualitas unsur-unsur rupa yang disusun dan memiliki kualitas harmoni, kesatuan dan ekspresi. Jadi seni rupa adalah seni yang nampak oleh indra penglihatan dan wujudnya terdiri dari unsur rupa berupa titik, garis, bidang atau ruang, bentuk atau wujud, warna, gelap terang, dan tekstur. Seni rupa dapat sebagai properti pendukung jenis seni lainnya seperti seni tari dan teater. Apabila membahas kedua jenis seni tersebut juga tidak lepas membahas aspek seni rupanya. Berdasarkan wujud dan bahannya seni rupa dibedakan menjadi dua yaitu seni rupa dua dimensional dan seni rupa tiga dimensional. Selanjutnya berdasarkan jenisnya seni rupa terdiri dari beberapa cabang seni yakni seni lukis, seni grafis, seni patung, seni dekorasi, seni komunikasi visual, dan seni kriya atau seni kerajinan. Pada saat ini seni kriya berkembang menjadi seni kriya murni dan seni kriya terpakai.Dalam buku ini tidak dibahas masing-masing cabang seni tersebut karena cakupannya sangat luas.

3. Lukisan Leang – leang
Zaman paleolithikum ini ditandai dengan diketemukannya benda-benda dari batu kasar, berupa kapak genggam (chopper) yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur), Parigi (Sulawesi), Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat). Di Ngandong (Jawa Tengah) ditemukan alat-alat dari batu beraneka warna yang berfungsi untuk mengorek-orek ubi yang disebut flakes dan peralatan dari tulang (bone culture). Selain itu juga ditemukan lukisan kuno di gua Leang-leang (Sulawesi Selatan) objek lukisan di gua ini berupa telapak tangan dan tubuh manusia. Di Papua objek lukisannya berupa binatang terdapat cipratan darah yang dicampur dengan lemak. seni rupa terapan dan desain. Seni rupa murni adalah suatu karya seni yang menggunakan media visual yang digunakan sebagai pemuas ekspresi pribadi atau karya yang dibuat hanya digunakan untuk kepuasan dirinya sendiri. Seni rupa murni terdiri dari seni lukis, seni grafis, seni patung, seni instalasi. Sedangkan seni rupa terapan adalah karya seni rupa yang menitikberatkan pada aspek kegunaan atau fungsi. Seni rupa terapan terdiri dari berbagai macam hasil karya seni kriya, baik kriya kayu, kriya kulit, kriya logam, kriya keramik, kriya tekstil, batik. Seni rupa desain terdiri dari desain produk, desain grafis, desain arsitektur, desain interior-eksterior.

4. Lukisan Tibet
Tangka atau gambar gulungan adalah karya seni lukis yang unik di Tibet. Seni lukis Tangka yang mempunyai ciri khas etnis Tibet dan bernuansa keagamaan yang kental selamanya dipandang rakyat Tibet sebagai khazanah Tibet. Tangka adalah lafal dalam bahasa Tibet, artinya ialah gambar gulungan agama Buddha yang dihiasi dengan kain sutra berwarna dan tergantung pada dinding untuk upacara sembahyang. Biasanya Tangka berbentuk persegi panjang dengan ukuran berbeda-beda. Gambar Tangka biasanya dilukis di atas kain kanvas dengan empat seginya dihiasi dengan kain sutra, dan di bagian belakangnya ditulis kutipan dari kitab agama Buddha atau teraan tangan berwarna emas atau merah seorang lama (biksu agama Buddha). Gambar Tangka mudah digantung atau dibawa ke mana-mana, dan juga bermanfaat untuk menyebarluaskan agama Buddha. Gambar Tangka secara kasar terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Tangka yang dilukis dengan tangan, Tangka di atas kain dan Tangka yang dicetak. Di antaranya, Tangka di atas kain adalah Tangka yang paling berharga.

5. Lukisan Keraton
Dalam lukisan berjudul “Senja”, 1987, Sudjana Kerton menghadirkan dunia rakyat bawah dalam suatu momen yang unik, yaitu penggembala itik di waktu senja. Dunia itu menjadi unik, karena pelukisnya mempunyai sudut pandangan yang lain, baik secara visual maupun dalam empati jiwanya. Kerton selalu membuat gerak tubuh rakyat jelata dalam deformasi yang mengekspresikan beban hidup, namun sekaligus mengandung kelucuan. Dilatarbelakangi terbenamnya matahari senja dan itik-itik yang berkelompok dalam formasi diagonal, karya ini mengembangkan suasana puitis sekaligus tertekan.Lukisan ini menunjukkan pencapaian periode terakhirnya, setelah ia pulang ke Indonesia dan bermukim di Bandung. Periode sebelumnya adalah ungkapan-ungkapan yang lebih dekat dengan tren seni lukis barat ketika ia bermukim di Eropa dan Amerika. Dalam periode terakhir itu Kerton lebih banyak mengungkapkan realitas kehidupan rakyat. Dari berbagai objek dan tema yang diangkat, ia seperti tidak habis-habisnya menimba semangat kemanusiaan para tukang becak, buruh, petani, pelacur dam lapisan masyarakat sejenisnya. Namun demikian, bukan hanya kemurungan yang diungkapkan dalam karya-karyanya itu, tetapi juga terangkat nilai-nilai humor dan keunikan hidup. Hal itu bisa dilihat dari gestur-gestur tubuh, deformasi, goresan, dan warna-warna yang kuat, serta mengekspresikan kedalaman.

6. Lukisan Berburu
Jejak panjang seni lukis modern Indonesia dirintis oleh Raden Saleh, lantas tumbuh dan berkembang sejak era naturalisme-realis Mooi Indie hingga kembalinya gejala Realisme Romantik abad 21.BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden SalehSyarif Bustaman (18071880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintisaliran seni lukis modern (modern art) di tanah air. Seni lukis modern ini berjarak dengan senilukis tradisional yang telah tumbuh dan berkembang berabad-abad sebelumnya. Punya karakter dan ciri khas sendiri . Pembentukan gaya seni rupa, pemilihan tema, pemakaian bahan lukisan serta fungsikegunaannya berbeda dengan seni lukis tradisional. Raden Saleh melukis dengan maksud mengembangkan bakat seni pribadi atau potensi kreatif-artistik individu seniman, dengan wawasannya sebagai manusia budaya baru yang berpandangan universal. Seni rupa modern tidak lagi memahat patung nenek moyang dan menatah sertamenyinggung tokoh-tokoh pewayangan dalam bermacam-macam bentuknya : wayang beber,kulit, golek, krucil. Pendek kata, seni rupa modern Indonesia sama sekali bersifat baru.Seni lukis modern sesungguhnya dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda diIndonesia pada sekitar abad 17. Hanya saja, perintisan seni lukis modern ini bagi bangsaIndonesia berlangsung ”secara tidak sengaja” atau ”tanpa direncanakan” mengingat terjadinyaperintisan di tengah-tengah kegelapan dari zaman penjajahan, sebelum adanya kemerdekaan.Dus, ini tentu saja tidak masuk dalam kesadaran budaya mengimgat Indonesia saat itu masihmerupakan bangsa terjajah.

7. Perahu Senja (perahu disore hari) Pelukis :Feri Raharjo
Seni lukis yang merupakan nilai-nilai yang melekat pada lukisan dan dipengaruhi oleh budaya yang dimilikipelukisnya. Yang diterapkan dalam lukisan yang berjudul Perahu Senja (perahu disore hari) yang memang pelukisanya disore hari menjelang matahari terbenam. Aliran atau corak yang dibentuk dari lukisan di atasmerupakan suatu kombinasi antara aliran realisme dengan ekspresionisme yaitu penggambaranya sesuai dengan kenyataan hidup dan penggambaranya sesuai dengan keadaan jiwa perupanya yang spontan pada saat melihat objek. Pelukis terinspirasi dari suatu objek dimana objek tersebut dapat menghadirkan suatu ketenangan bagi si penikmat yang melihatnya (pengambilanya sewktu disore hari). Dalam penyelesaianya tidak memerlukan beberapa lama tapi tergantung tingkat kesulitan yang dapat mempengaruhi lukisan itu, dan lukisan itu dapat diselesaikan dalam kurun waktu 1 sampai 2 minggu. Gradasi warna diambil dari titik fokusnya terlebihdahulu, jadi warna sebelumnya tidak sekstrim seprti itu tapi hasilnya menjadi bagus, cara pengerjaanya lebih slow (cara pengerjaanya sepelan mungkin agar dapat menghasilkan karya yang bagus seperti lukisan di atas.

8. Lukisan Hayam Wuruk
Seluruh Jawa, meliputi: Jawa, Madura dan Galiyao (Kangean) Seluruh Pulau Sumatra (Melayu), meliputi: Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Inderagiri), Muara Tebo, Dharmasraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lawas (Padang Lawas, Gayu Luas), Samudra (Aceh), Lamuri (Aceh tiga segi), Bantam dan Barus. Seluruh Pulau Kalimantan (Tanjungnegara), meliputi: Kapuas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga (Serawak), Sedu (Sedang di Serawak), Kota Waringin, Sambas, Lawar (Muara Labai), Kedangdanan (Kendangwangan), Landak, Samedang (Simpang), Tirem (Peniraman), Sedu (Serawak), Brunai, Kalka Saludung, Solot (Solok, Sulu), Pasir, Baritu, Sebuku, Tabalong (Amuntai), Tanjung Kutai, Malanau dan Tanjungpuri.

9. Lukisan Cirebon
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa.Pada jamannya pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa Lukisan Kaca Wayang. Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Selanjutnya perkembangan Lukisan Kaca Cirebon boleh dikatakan “Booming” ketika pada kurun waktu 1980-1990 Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon TOTO SUNU menggebrak dengan Lukisan Kaca Super Besar bahkan tidak hanya besar ukurannya tetapi Nuansa Dekoratifnya demikian hidup dan terlihat sangat menawan. Banyak sekali karya-karya TOTO SUNU yang menjadi koleksi para Kolektor Lukisan, sehingga sangatlah wajar apabila Gaya dan Teknik lukisannya menjadi kiblat para Pelukis Muda hingga saat ini. Kalau Toto Sunu mengusung Gaya Dekoratif Modern, maka lain lagi halnya dengan RASTIKA yang mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Kedua maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal diseantero Nusantara bahkan Mancanegara. Kedua Kutub dengan Gaya berbeda telah melahirkan puluhan Pelukis Muda yang berbakat dalam dunia seni lukis kaca bahkan dari kedua tokoh tersebut sangat menentukan dalam melahirkan regenerasi Pelukis Kaca Cirebon. Beberapa diantaranya Lukisan Kaca Cirebon saat ini diarahkan kepada pembuatan produk massal yang lebih memungkinkan dalam peningkatan kapasitas produksi, peningkatan teknik produksi berorientasi pasar serta peningkatan diversifikasi produk untuk melahirkan Produk Cinderamata yang berbasis etnik.Seperti tak pernah kenal lelah Pemerintah Kota Cirebon melalui Disperindag dan Dekranasda Kota Cirfebon terus berupaya untuk meningkatkan Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.

10. Lukisan Seniwati Jalanan Zaman Kuno
Konon, kesenian, baik audio, visual, atau audio-visual, dipertunjukkan sebagai persembahan kepada sesuatu yang sakral dan transendental. Seiring dengan kehendak manusia yang selalu dinamis dan kebutuhan ekonimi yang mendesak, kesenian berangsur-angsur berubah nilai; yang semua suci menjadi profan. Kesenian yang dulu hanya digelar di depan candi di tengah api pemujaan dan pengisahan sakral tentang asal-usul leluhur, mulai dipertontonkan di pasar, jalanan, dan di tempat-tempat umum lain. Pertunjukan wayang yang semula diadakan, salah satunya, di wilayah suci saat penetapan sima (tanah yang dibebaspajakkan oleh kerajaan) mulai dibawakan pula di tempat yang sarat kehirukpikukan duniawi, demi pemenuhan akan kebutuhan ekonomi. Di Nusantara, khususnya di Jawa, bila kita melacak sejumlah catatan prasasti dan relief candi, keberadaan seni pertunjukan jalanan telah ada sejak abad ke-9 M (mungkin sebetulnya sejak abad-abad sebelum namun tiada tertulis dalam prasasti dan tidak hanya di Jawa tentu). Kesenian tersebut bisa berupa tarian, lawakan, hingga pertunjukan wayang.

Sumber: http://vienamellanda.blogspot.co.id/2013/09/seni-rupa-lukisan-nusantara-dan.html?m=1

GELIAT SENI LUKISAN KACA DI CIREBON

Selain batik, harta karun budaya Cirebon lainnya adalah lukisan kaca. Tak ada yang tahu pasti, kapan persisnya seni lukis ini hadir di Cirebon. Konon, seni melukis ini sudah dikenal sejak abad 17 Masehi, atau awal munculnya keraton Cirebon. Pada zaman itu, lukisan kaca digunakan sebagai media dakwah agama Islam, dan lebih banyak mengangkat pola batik seperti mega mendung, wayang dan kaligrafi. Seiring berjalannya waktu, kini seni lukis kaca Cirebon sudah berkembang seperti halnya seni lukis kontemporer lain. Lukisan kaca yang dilukis dengan teknik melukis terbalik ini, sangat kaya akan gradasi warna dan aspek dekoratif, serta ragam hias ornamen dan motif.  Perkembangan seni lukis dengan media kaca ini sempat mengalami pasang surut. Bahkan, lukisan kaca hasil karya para pelukis kaca di Cirebon ini pernah dijual dari pintu ke pintu, tidak seperti sekarang di mana galeri seni mulai menjamur di kota Cirebon. Lukisan kaca ini pun kini telah menjadi cinderamata khas Cirebon. Kantor-kantor pemerintahan di kota Cirebon tak jarang minta dibuatkan lukisan kaca untuk dipajang atau diberikan kepada tamu sebagai souvenir. Lukisan kaca Cirebon mulai menemukan kembali tempatnya pada tahun 80-an. Di masa itu, salah satu maestro lukis kaca, Toto Sunu, membuat lukisan kaca berukuran besar yang sangat indah. Hasilnya, apresiasi dari masyarakat pun bertebaran dan diberikan kepada seniman lukisan kaca. Salah satu bentuk apresiasi yang diterima datang dari istri Duta Besar Brazil masa itu. Menurut salah seorang pelukis kaca ternama Cirebon, Bambang Sonjaya, perkembangan seni lukis kaca Cirebon kini bergerak semakin positif. Apresiasi tak hanya datang dari warga lokal, melainkan juga kalangan ekspatriat yang sudah sejak lama kepincut pada seni ini. Bambang, yang juga merupakan salah seorang putra budayawan dan maestro kesenian Cirebon, H. Abdul Adjib ini, bercerita justru awalnya tidak tertarik pada seni lukis kaca ini. Bahkan ia pernah meledek almarhum ayahnya yang nyaris setiap hari melukis di atas kaca. Ia baru tersadar untuk menekuni seni lukis kaca usai diwisuda dari Fakultas Administrasi Negara, Universitas Padjajaran, Bandung. Saat itu, almarhum ayahnya mengatakan bahwa dirinya bisa menyelesaikan kuliah berkat lukisan kaca. Saat mendengar itu, dadanya seakan sesak. Akhirnya, ia membulatkan tekad untuk belajar dan mendalami seni melukis kaca.  Tahun 1994, Bambang mulai belajar dari sang ayah. Ia mengakui, butuh keahlian khusus untuk menjadi seorang pelukis kaca. Belajarnya pun cukup lama, karena harus membuat lukisan atau gambar secara terbalik. Kesabaran dan keyakinan tangan saat membuat garis sangat penting. Dan di tahun 1996, ia mulai memasarkan lukisan kaca secara door to door. Beruntung saat itu ia bertemu dan berkenalan dengan orang pemerintahan daerah yang kemudian mengajaknya mengikuti beragam pameran. Sampai kemudian, ada seorang wartawan asing dari Australia yang datang ke rumahnya untuk mewawancarai Ayahnya sebagai seorang musisi tarling. Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir Pantai Utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling). Kepada wartawan itu, almarhum ayahnya mengatakan bahwa putranya tersebut adalah seorang pelukis kaca. Akhirnya Bambang dan sang wartawan pun terlibat obrolan. Dan ternyata, pada bulan Desember 1997, liputan mengenai lukisan kacanya muncul di majalah Garuda Indonesia. Bahkan salah satu lukisannya menjadi cover. Sejak saat itu, banyak warga negara asing yang datang ke rumahnya dan mejadi pelanggan. Bahkan ada juga warga Amerika Serikat bernama Michael Hills yang kemudian memborong lukisannya untuk dijual lagi ke negaranya. Dan pada pesanan keduanya, sekitar tahun 1998, Bambang mendapat pesanan senilai 7000 USD. Dikatakan pembeli itu, lukisan Bambang ada juga yang dibeli oleh Arnold Schwarzenegger dan Madonna. Pesanan pun terus berlanjut sampai tahun 2013.  Bambang sama sekali tak menyangka, jalan hidup sebagai pelukis kaca yang ia pilih itu membuat namanya dikenal hingga ke mancanegara. Pembeli lukisannya pun terus berdatangan, baik yang datang secara langsung ke rumahnya di Cirebon maupun melalui dunia maya. Masa keemasan itu Bambang cicipi sampai tahun 2007 atau 2008. Setelah itu semakin banyak pelukis kaca lain yang bermunculan. Harga lukisan kacanya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya lukisan serta tingkat kerumitan atau motifnya. Bisa ratusan ribu rupiah, bahkan pernah ada lukisan kacanya yang ditawar ratusan juta rupiah. Bambang sendiri sejak tahun 2014 hanya membuat dan menerima pesanan lukisan kaca yang sesuai syariah Islam. Saat ini ia sedang mengumpulkan modal untuk membuat galeri syariah. Selain Bambang, banyak pelukis muda yang kini juga berkarya dan melestarikan kesenian warisan nenek moyang itu. Satu di antaranya adalah Aries Sutardi yang dapat ditemui di Cheribon Gallery di Jl. Raya Kedawung, Cirebon. Menurut Aries, menciptakan karya seni lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Itu sebabnya, ia sudah lebih dari 20 tahun tetap menekuni seni lukis kaca yang memiliki teknik cukup sulit itu. Teknik melukis kaca sangat berbeda dengan teknik melukis dengan memanfaatkan media seperti kanvas atau yang lain. Selain itu, cara melukisnya juga berbeda. Harus berpikir terbalik dan langsung jadi, karena kalau salah tidak bisa ditiban.  Berbeda dengan tema lukisan kaca yang sudah ada, Aries membuat beragam lukisan dengan motif yang lain, seperti karikatur, foto, natural atau realis. Meski begitu, ia juga masih membuat lukisan seperti wayang, wadasan, dan lain-lain. Tahun 1993 menjadi awal dirinya memulai menambahkan warna lain pada lukisan kacanya. Saat itu, ia membuat beragam lukisan dengan media kaca. Tahun 1998, ia membawa lukisan kacanya itu ke Jakarta. Ketika melikat lukisan kacanya, banyak orang yang tidak percaya kalau yang dibuat Aries itu benar-benar lukisan kaca. Bahkan ia sampai membuka frame-nya dan memperlihatkan lukisan setengah jadi kepada orang-orang itu. Pada saat yang bersamaan memang sudah ada pelukis yang juga membuat hal serupa di Cirebon. Tapi jumlahnya masih sedikit, mungkin hanya sekitar empat orang. Tapi sekarang sudah banyak yang membuat hal serupa dan bagi Aries itu justru bagus karena bisa membuat lukisan kaca ini semakin berkembang. Hanya saja, berbeda dengan pelukis lain, mungkin cuma Aries yang tidak punya stok lukisan. Karena berapa pun lukisan yang ia buat, pasti habis terjual. Aries memang sengaja tidak menyediakan stok, karena mengaku dirinya butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Menurut Aries, butuh kesabaran untuk menciptakan sebuah lukisan kaca. Apalagi kalau desainnya rumit dan dirinya sedang tidak mood. Sementara kalau mood-nya sedang datang, dalam sehari ia bisa membuat satu lukisan. Bahkan Aries mengaku pernah mampu memenuhi pesanan pelanggan hingga ratusan buah lukisan kaca untuk dibawa ke Australia. Ia justru malah senang jika harus memenuhi target dalam jumlah yang banyak, karena merasa tertantang. Tapi pernah juga, ia dilanda kebosanan karena harus melukis motif yang itu-itu saja. Aries menambahkan lukisan kaca memiliki banyak kelebihan dibandingkan lukisan biasa. Selain perawatannya lebih mudah ketimbang jenis lukisan lain, warna lukisan kaca dijamin mampu bertahan lebih lama. Bahkan bisa bertahan seumur hidup seperti lukisan-lukisan kaca yang ada di keraton Cirebon. Asalkan, jangan sampai jatuh saja.

Sumber: http://paradizhop.blogspot.co.id/2015/05/geliat-seni-lukisan-kaca-di-cirebon.html?m=1

Art-Chipelago' Tampilkan Karya 106 Perupa tentang Nusantara

Jakarta -
Sebuah patung berkepala lembu dan bertubuh peti mati dengan empat kaki terpampang di ruangan depan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Warnanya hitam dan di bawahnya terdapat arang.

'Silence Journey' (Homage to Chris Hill) karya Wayan Upadana mengawali 106 karya yang dipamerkan di hajatan dua tahunan perupa Nusantara bertajuk 'Art-Chipelago'. Berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, kali ini eksibisi tingkat nasioal tersebut mengajak dua perupa dari Malaysia dan Filipina.

"Kami mengajak para perupa untuk mendeskripsikan Nusantara melalui persepsinya masing-masing," kata anggota tim kurator 'Art-Chipelago' Suwarno Wisetrotomo saat pembukaan, semalam.

Kata 'Art-Chipelago' yang merupakan gabungan dari 'art' dan 'archipelago' ini mempunyai makna tersendiri yang berarti 'kepulauan'. "Para perupa bisa merumuskan Art-Chipelago dalam karya-karyanya, bagaimana kaitannya dengan tempat berkarya, karakter, dan identitas perupanya," katanya.

Namun, 'Art-Chipelago' juga bisa bermakna politis kepulauan. "Karena itu, pameran ini dikonsepkan kata nusantara sesuai dengan apa yang dipahami seniman."

Eksibisi yang sudah digelar konsisten sejak 2001 silam ini selalu mencari bibit-bibit perupa baru yang terbatas mendapatkan ruang berkreasi dan memajang karyanya di tempat asal. Tapi juga menampilkan karya-karya dari perupa senior yang sudah malang melintang di Tanah Air.

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan mengatakan eksibisi ini menyusun Indonesia sebagai identitas nusantara. "Seni mungkin adalah ekspresi tanda tanya dalam pikiran," tuturnya.

Para perupa yang berpartisipasi mengekspresikannya lewat kanvas, gagasan, dan merangsang para pengunjung untuk melihat pengalamannya melalui konteks 'nusantara'. "Mudah-mudahan pameran ini menjadi salah satu alat munculnya kreativitas dan dunia pendidikan sangat membutuhkan itu."

'Art-Chipelago' yang dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo, Asikin Hasan, A.Sudjud Dartanto ini digelar dari 26 Mei sampai 7 Juni mendatang. Sebanyak 97 perupa adalah peserta yang lolos seleksi dari 23 provinsi di Indonesia yang disaring dari 527 aplikasi.

Sisanya sebanyak 9 perupa merupakan undangan dari Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini menampilkan karya lukisan, drawing, instalasi, object, seni grafis, keramik, komik, video art, multimedia, dan lain-lain. Selamat berkunjung!

Sumber: http://m.detik.com/hot/art/2924946/art-chipelago-tampilkan-karya-106-perupa-tentang-nusantara

Lukisan Kaca tentang Majapahit Pukau Pengunjung Pameran 'Art-Chipelago'

Seniman Endang Adi Sutomo (Dok.Tia Agnes/ detikHOT)

Jakarta - Endang Adi Utomo tidak menyangka bahwa lukisan kaca buatannya akan disukai masyarakat dan pecinta seni. Salah satu karya terbarunya itu kini dikoleksi oleh Galeri Nasional Indonesia dan tim kurator menganggap pemiliknya sebagai perupa muda berbakat.

Padahal ia hanya ingin membuat karya seni yang berbeda untuk tugas akhir kuliahnya. "Kalau melukis di atas kanvas sudah banyak yang pakai dan mau konsep apa lagi," katanya kepada detikHOT di sela-sela pembukaan pameran 'Art-Chipelago' di Galeri Nasional Indonesia Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2015).
Kemudian, pria yang akrab disapa Tomo mulai mencoba melukis di atas kanvas. Ia membuatnya bukan di satu lapisan saja tapi sampai tiga lapisan.

"Kalau satu lapis cuma menggambarkan satu efek tapi kalau layer-nya banyak ada gambar yang bisa dieksplor lebih," tuturnya lagi.

Seniman yang pernah mengikuti pameran kolektif 'Prahyangan View' di Universitas Monash Australia ini juga selalu menampilkan karakter pewayangan. Untuk lukisan kaca terbarunya, ia membuat kisah tentang Majapahit.

Melalui tokoh 'Gajahmada' yang membawa masa kejayaan Majapahit hingga ke seluruh Nusantara, Tomo memajang empat panel. Masing-masing panel ada sampai empat lapisan lukisan kaca.

"Saya kira kaca plastik arkilik bakal jarang diminati tapi justru itu yang menjadikannya unik," kata Tomo.

Lukisan kaca yang diberi judul 'Langit Senja Palagan Bubat Saksi Bela Pati Citraresmi' yang dibuatnya sejak Agustus 2014 hingga awal Januari ini, bisa dilihat di Galeri Nasional Indonesia hingga 7 Juni mendatang.

Sumber: http://m.detik.com/hot/art/2925022/lukisan-kaca-tentang-majapahit-pukau-pengunjung-pameran-art-chipelago

Saturday, October 1, 2016

MAKNA LUKISAN KACA CIREBON

Kuswa Budiono
dipublikasikan pada Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol.2 No.5 September 2002
Abstrak
Lukisan kaca Cirebon merupakan karya seni rupa tradisional  yang pada awalnya berperan sebagai syiar agama Islam. Dalam perkembangannya berubah menjadi
karya
seni yang berkecenderungan sebagai ungkapan ekspresi diri para penekunnya. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan perubahan sosial dari para senimannya dan juga masyarakat pendukungnya. Fungsi yang berubah berdampak pada pula pada perubahan
makna
yang terkandung dalam lukisan kaca. Tentu saja perubahan
makna ini tidak dapat diberlakukan terhadap seluruh karya
yang berada diCirebon. Perubahan ini hanyalah sebagian saja,selebihnya tetap berjalan seperti konsep-konsep lama. Dengan demikian pengertian perubahan ini dapat dikatakan pula sebagai pengembangan.
Kata Kunci:
pengembangan, makna, lukisan kaca
I. Pendahuluan
Nama Cirebon konon berasal dari ejaan orang Barat yang keliru,kemudian melalui proses bahasa menjadi Cirebon. Abdurachman(1982: 15) menyatakan bahwa telah lahir perdebatan tentang asal-usul nama Cirebon, apakah seharusnya Cirebon atau Caruban, karena pasti istilah Cirebon lahir jauh kemudian,setelah disalah eja orang Barat menjadi Cheribon berabad-abad. Namun perlu diketahui pula bahwa masih banyak masyarakat Cirebon yang menyebutnya Grage,yang dimaksudkan sebagai bahasa halus dari kata Cirebon. Cirebon merupakan bagian dari propinsiJawa Barat, tepatnya berada didaerah pantai utara bagian timur. Merupakan pula daerah lintasan transportasi darat sebelah utara dari pulau Jawa,sehingga kota ini menjadi ramai dan banyak dikunjungi orang.Jalan lintasan ini sekarang dikenal dengan sebutan
pantura(pantai utara). Jauh sebelum transportasi dan komunikasi menjadi maju seperti sekarang ini, maka kota yang berkedudukan di pantai cenderung menjadi lebih terbuka dibanding dengan kota yang berada di pedalaman.Lalu lintas laut menjadi sangat berpotensi bagi pendatang- pendatang dari luar, seperti dariIndia, Cina, dan Arab. Lazimnya pendatang tersebut berkepentingan untuk melakukan perdagangan.

Dewasa ini menurut sensus 1979,yang dinamakan daerah Cirebon adalah wilayah bekas Karesidenan Cirebon yang terdiri dari kabupaten-kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka,Indramayu, dan Kotamadya Cirebon, dengan luas daerah5.642,569 kilometer persegi, berpenduduk 4.011.873 jiwa(Abdurachman, 1982: 13).Matapencaharian penduduk atau masyarakat ini hampir sama dengan kota-kota pantai pada umumnya di pesisir Jawa yaitu nelayan bagi masyarakat pantai.Lebih ke pedalaman bermata pencaharian sebagai petani dan berdagang, selebihnya bermata pencaharian seperti kehidupan kota pada umumnya.Kota penghasil udang ini merupakan pula kota yang kayaakan kesenian diantaranya adalah: wayang
kulit, wayang cepak,
tariing,
sandiwara,topeng, genjring, sintren (lais),dombret, angklung bungko,terbang, berokan.
Disampingitu kesenian yang bernuansakan seni rupa pun seperti batik  banyak dikenal bahkan beberapa perancang ibu kota memanfaatkan tenaga perlihat dari daerah Trusmi - Cirebon.Selain batik dikenal pula karya tradisional lainnya, yaitu lukisan kaca. Kini lukisan kaca bukan hanya monopoli keraton, namun telah menyebar ke daerah-daerah pinggiran. Keberadaan lukisan kaca ini hampir dapat dipastikan muncul setelah adanya produk kaca di wilayah tersebut. Seni lukis kaca dimulai dari pusat- pusat kekuasaan Islam sepertiYogyakarta, Surakarta, Cirebon,Banten dan sebagainya. Tradisiseni lukis ini kemudian menyebar di masyarkat pedesaan dan didaerah pesisir. Lukisan kaca dengan motif wayang atau motif cerita nabi dan cerita babad yang sudah sering dibuat dilingkungan para bangsawan ditiru pula oleh para petani di desa-desa ( Yudoseputro, 1986 : 159).Selain di Keraton dan Cirebonkota, lukisan kaca dapat diidentifikasi keberadaannya didaerah Gegesik, Trusmi,Kemlaka, Kapetakan.Keberadaan lukisan kaca`dahulu' dengan sekarang telah mengalami perubahan dari konteks awalnya. Perubahan ini tentunya banyak dipengaruhi oleh berbagai penyebabnya.Oleh karenanya perubahan ini perlu dipandang sebagai perubahan kebudayaan yang berdampak pada perubahan kesenian. Dimana kesenian-kesenian ini banyak terpengaruh bentuknya oleh ritual-ritual yang magis. Selaras dengan pendapat Clair Holt ( 2000:XXVIII ) yang menyatakan bahwa Indonesia pada masa lampau, kreativitas artistik telah mengabdi pada fungsi-fungsi ritual magis dan relegius, telah memberi bentuk yang nyata pada mitos-mitos, serta telah meningkatkan kehidupan seremonial yang sekuler pada semua peristiwa penting, baik diistana-istan raja atau pada komunitas-komunitas desa.Tulisan ini mencoba untuk memberikan makna lukisan kacadi Cirebon, khususnya bagi para penekunnya(seniman).Penafsiran simbol-simbol lukisan kaca ini sesungguhnya menunjukkan bagaimana penekun karya yang bersangkutan dapat melihat,merasa, dan berfikir tentang duniamereka sendiri.
II. Pemahaman Tentang Makna.
Bahasa kerap dan selalu digunakan sebagai alat untuk dapat berkomunikasi antara manusia dengan manusia. Ragam wujud bahasa menjadi komplek ketika pemahamannya diperluas lokal yang agak sulit untuk mengembangkan kreativitasnya mengingat kepatuhan terhadap tata cara melukis kaca yang tetap dipatuhi. Sementara itu bagi seniman-seniman tua tetap berkarya lukisan kaca dengan pemahaman yang lama.Perbedaan tata cara melukis kaca ini kerap menjadi perdebatan yang tak kunjung padam.Meskipun demikian masing-masing tema tetap berjalan pada kondisinya. Tema-tema arsitektur mesjid model Arab seperti Ka'bah memang mulai langka. Seniman tampaknya tidak berupaya menghidupkannya lagi.Sumber daya seniman lukisan kaca yang telah berubah ini membawa pula pada perubahan nilai-nilai dan tata cara yang berbeda dari sebelumnya. Nilai-nilai lukisan kaca yang pada awalnya merupakan alat pendukung dalam syiar Islam menjadi berubah dan dipandang sebagai lahan untuk penyampaian ekspresi diri. Tampaknya pengaruh dari model melukis secara umum mulai memasuki tata cara melukis kaca. Dalam keteknisan misalnya telah pula memanfaatkan teknologi
cat spray yaitu cara mewarnai dengan menggunakan alat semprot.Selain hal tersebut pengaruh dari masyarakat konsumen lukisan kaca pun ikut memberikan adil pada gaya-gaya lukisan kaca ini.Dahulu cat dengan menggunakan semprot ini tidak dilakukan oleh seniman tua. Mereka lebih menyukai dengan cara lama yaitu dengan menggunakan kwas secara manual. Dengan demikian pranata yang lama tetap masih digunakan ditambahkan dengan pranata yang baru.,Kedua-duanya dapat berjalan sesuai dengan keteknikan masing -masing terlepas mana yang berkualitas dan mana yang tidak.Perubahan pranata dalam proses produksi lukisan kaca ini dapat dilihat pula kaitannya dengan pengaruh atau perubahan kebutuhan estetika, kebutuhan sosial, maupun kebutuhan primernya. Kebutuhan seniman lukisan kaca yang dahulu merupakan pendukung penyebar agama, kini bergeser pada nilai-nilai kebutuhan yang sifatnya pragmatis. Melukis kaca seyogyanya akan dapat memberikan materi dan imateri Adalah wajar bila seorang seniman mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya dalam bentuk pengangkatan nilai ekonomi, sedangkan imateri merupakan penunjuk bahwa seseorang telah mampu menyelesaikan karyanya sebagai seniman.
V. Penutup
Lukisan kaca sebagai karya seni visual memiliki muatan-muatan tanda yang dibuat oleh para senimannya yang berawal dan kebutuhan sebagai syiar agama dan terdapat kecenderungan bergeser menjadi ekspresi individual sebagaimana lazimnya sebuah lukisan. Baik tema keagamaan, wayang, ataupun tema modern dapat berjalan masing-masing sesuai dengan kebutuhan lingkungan dari masyarakat penggunanya. Oleh karena itu tanda-tanda yang terdapat dalam lukisan kaca dapat berkembang selaras dengan berkembangnya fungsi dan perandari lukisan kacanya. Fungsi ini sangat ditentukan oleh interaksi para pendukungnya yaitu antara seniman dan para penggunanya.Pada dasarnya ungkapan tanda pada lukisan kaca Cirebon bila dikaji secara rinci dapat digolongkan menjadi:
1)Ungkapan tanda-tanda yang menerangkan tentang gagasan keseluruhan dan makna gambar, juga sering berkaitan dengan latar  belakang dan ceritera.
2)Ungkapan tanda tersebut dinyatakan melalui unsur kesenirupaan (visual) secara elementer seperti: warna, garis, bentuk, dan komposisinya.

Sumber: http://www.academia.edu/3804714/MAKNA_LUKISAN_KACA_CIREBON

Tuesday, September 27, 2016

fungsi hias dari lukis kaca

Percantik Rumah dengan Kaca Dekoratis MENAMPILKAN rumah supaya unik dan menarik bisa dilakukan dengan penggunaan kaca dekoratif di rumah. Kenali fungsi dan bentuknya sertasesuaikan dengan interior rumah. Rumah umumnya identik dengan pintu, jendela, dan komponen lainnya. Jenis material yang digunakan pun kian beragam, salah satunya kaca. Secara fisik, melalui kaca, ruang menjadi terbatasi dengan area lain, walaupun bersifat hanya secara visual. Seiring perkembangan zaman, teknologi kaca dan pembuatannya menjadi kian beragam. Kini berbagai jenis kaca dekoratif mulai sering digunakan, namun disesuaikan dengan fungsi dan kadar privasi ruangan yang ingin diciptakan. Dari yang tembus pandang, sedikit menerawang, berbayang, hingga samar-samar dan tidak kelihatan. Selain itu, fungsinya pun hanya terbatas pada area bangunan-bangunan tertentu, seperti gereja dan masjid. Kini, penggunaan kaca pun sering dipergunakan di rumah. Dilihat dari jenisnya, kaca dekoratif dibagi menjadi beberapa macam, antara lain stained glass, kaca es, melton glass, opalescent glass, wisspy glass, kaca air, dan kaca tempered. Dari berbagai jenis kaca tersebut, si penghuni dapat menggunakannya sesuai kebutuhan dan selera. Menurut arsitek Probo Hindarto, kaca dekoratif banyak digunakan memberikan nilai lebih pada estetika. Hal ini karena jenis kaca dekoratif lebih mahal dan memiliki tampilan atau kesan yang lebih dibandingkan kaca biasa. Misalnya kaca patri, digunakan untuk menambahkan efek cahaya dari bias sinar matahari yang masuk melalui jendela atau bukaan lainnya. Kaca dekoratif juga bisa digunakan untuk jendela dan penyekat. Karena itu, pengaplikasiannya memang harus hati-hati. Probo menjelaskan, sesuai dengan sifatnya yang dekoratif atau berhias, memang lebih sesuai digunakan untuk rumah dengan tema atau gaya yang juga berhias, seperti rumah model klasik, mediterania atau etnik. ”Bila dipakai untuk rumah dengan gaya modern atau minimalis maka bisa membuat gaya rumah itu tidak konsisten, bahkan kacau,” tambahnya. Selain itu, lanjut Probo, pola atau gambar yang lazim digunakan bermotif floral, binatang atau motif klasik. Yang sifatnya menyenangkan dan menenteramkan untuk dilihat. Hal serupa juga diungkapkan arsitek Dwi D Noviantoro. Menurutnya, karena harganya yang relatif mahal, jadi tak bisa dipasang di mana saja. Biasanya kaca dekoratif diletakkan pada bagian yang merupakan point of interest dari bangunan atau hunian tersebut. Misalnya pada pintu utama, area sudut atap, ataupun ruang (area) tangga utama. Area-area yang disebut tadi, biasanya terlihat dari luar rumah. ”Untuk pintu, kaca yang digunakan biasanya motif sulur atau floral, hal tersebut sudah cukup sesuai, sedangkan untuk jendela bisa digunakan kaca dekoratif motif floral, atau binatang, atau gambar lainnya misalnya gambar pemandangan,” timpal Probo. Tak hanya untuk elemen eksterior, saat ini pemakaian kaca pun menjadi berkembang. Terbukti, saat ini banyak juga yang menggunakan kaca dekoratif sebagai elemen interior. Ambil contoh, sebut Dwi, area perkantoran kantor-kantor khususnya daerah lobi, backdrop receiptionist, dan area meeting. Sementara untuk rumah tinggal, kaca dekoratif biasa digunakan sebagai partisi pemisah ruang. Motifnya bisa disesuaikan dengan atmosfer dan tema yang akan diwujudkan, serta disesuaikan dengan fungsinya. (nsa) Sumber : Okezone